.::| Prasetyo Peuru Henry Putra | @peuru.id | prasetyopeuru@gmail.com | +6281287553107 | Indonesia Raja | tabloidjejak.com | prasetyopeuru.com | Family: Peuru Modaso - Kawung Kumolontang | Mia Mori Kawanua | Single but happy and calm! | Haleluya! | Tuhan YESUS adalah Tuhanku untuk selama-lamanya. Amen. | Dalam nama Yesus terpujilah nama-MU Tuhan YME. Amin. | Praise The LORD Above all names Lord JESUS Christ. Hallelujah! by Mr. POPUHYPAZ. (Tyo) | Times Young Organization. #JESUSINSIDE #JESUSFIRST then #youallguys! Haleluya! Thanks My Jesus :) |::.

Total Tayangan Halaman

Followers

Instagram

Flag Counter

free counters

Unggulan

Best of Jesus

Best of Jesus Dibuat oleh Prasetyo Peuru Henry Putra. Hal yang paling kusukai dari Tuhan Yesus ketika masih di dunia dan naik ke ...

Senin, 26 Februari 2018

Aku Jatuh Hati

Saat bersamamu ku rasa bahagia
Sungguh nyaman ku ada di dekatmu
Saat bersamamu semuanya indah
Kau buatku jatuh hati padamu

Aku jatuh hati sungguh jatuh hati
Aku jatuh hati pada dirimu
Aku bahagia, sungguh sungguh indah
Beruntung ku bisa menemukanmu
Aku jatuh hati

Kamis, 08 Februari 2018

Tyo - Anganku Tentang Kebebasan Yang Indah (Puisi)

Tyo - Coretan Hati Galauku (Puisi)

Coretan Hati Galauku

Kelam,, Termenung dikala hujan turun, kesepian mencekam jiwa, membuat sesak di dada.  Itulah yang terasa saat ini, hampa dan tiada cahaya. Begitu gelapnya, ketika seseorang merasa tak berarti, seolah-olah semua menjadi tak berarti. Arti yang dicari menjadi hilang, sesuatu yang diyakini perlahan sirna. Dimanakah keindahan itu? Yang membuat wajah riang berseri, membuat hati tersenyum, rasa bahahagia tak tampak setitikpun. Ya setitikpun tidak. Dan terus dia melayang dalam gelapnya bayangan, titik tiada akhir..........................................Dan hilang lenyap!

Torehan tak berarti..............................................

Denyut nadi berdetak, pelan sedetik jarum jam. Waktu terus berjalan seolah punya kaki meninggalkan bekas jejak, yang nantinya pun kan terlupakan. Hilang sejarah ke dimensi ditiup angin. Angin meniupnya dan seiring waktu bekasnya pun hilang. Tanda-tanda kehidupan itu seolah sirna bagaikan cahaya sunset direnggut bayangan hitam, yang nantinya berubah menjadi malam. Dan mungkin malam tanpa bulan dan bintang. Tiada cahaya, setitikpun tidak.

Torehan tak berarti................................................

Tiada arti,, Di dalam sepi ku merenung tiada seorang pun yang memerhatikan. Tak ada yang peduli dan tak ada yang mau tau. Semua terasa hampa bagaikan di luar angkasa 'sendiri.. Namun, sungguhlah lebih menyedihkan, lebih menyedihkan dari sekedar terhempas di dalam gelap di luar angkasa... Perasaan itu begitu mencekam, sulit tuk diungkapkan... Membuat jiwa terkekang, bagaikan terikat begitu erat oleh baja... menyesakkan hati. Diri ini tak kuasa, lepas oleh pikiran gelap yang menghantui 'telah merasuk dalam, ke dalam jiwa mengusik hidup ini. Dan lebih ke dalam, ke hanyutan perasaan 'benci.. yang menyedihkan, atau mungkin yang benar adalah keputus-asaan. Ya rasa keputus-asaan. Membuat diri ini merana dalam masa suram jiwa ini tersiksa dan tersakiti.. namun tak berdaya, bagai seorang pemalas lelah dan tiada harapan. Pikiran ini melayang ke dimensi khayalan kelam, membawaku terhanyut 'menusuk hati.... Pancarkan kesedihan, 'menyakitkan yang teramat dalam.

Sekali lagi adalah torehan tak berarti.....................

Namun meluap dan timbul dari dalam hati, mendesak tuk ditulis...

Rabu, 07 Februari 2018

Cinta Seorang Sahabat - Nio dan Ririn



[CERPEN]
  • Title : Cinta Seorang Sahabat - Nio dan Ririn
  • Genre : Friendship, Romance, Drama
  • Author : Prasetyo Peuru Henry Putra

Nio dan Ririn

Di sekolah...

Hari ini aku Nio menghampirinya, pikirku dengan menemuinya aku akan merasa lebih lega. Namun yang terjadi sebaliknya, dia malah memarahiku meneriakiku tanpa sebab. Apakah dia sedang datang bulan pikirku, makanya dia begini. Meski hal tersebut tak patut dilakukan oleh seorang gadis berjilbab sepertinya. Ririn itulah namanya. Dia merupakan sahabat baikku, meski baru satu tahun saling mengenal sejak hari kedua masuk sekolah, namun aku cocok dengannya, makanya kami pun bersahabat. Akan tetapi akhir-akhir ini dia mulai berubah, dia tak memberiku penjelasan sedikitpun. Dia mulai suka marah-marah sendiri, kemudian menangis dan kembali marah-marah. Aku yang melihat dia seperti itu, pada saat ini segera mencoba menenangkannya.

"Ririn tenang, sabar... Lu kenapa sih Rin? Gue baru datang, lu marahin gue. Lu juga teriakin gue sebegitu kasarnya. Emang gue salah apa ama lu? Kenapa ama lu Rin. Akhir-akhir ini lu berubah tau gak. Please, cerita kalo lu ada masalah. Barangkali gue bisa bantu. Bagaimanapun kan gue ini sahabat lo!"

"Diem lo. Gue lagi gak mau liat muka lu di sini. Gue gak mau diganggu siapapun. Biarin gue sendiri!"

" Oke kalo itu mau lu. Asal lo tau, gue kecewa ama lu."

Aku pun segera pergi meninggalkannya sendiri di ruang musik sekolah. Niat menghilangkan kepenatan sehabis ujian di kelas, pikiranku malah ditambah dibuat kacau oleh sikap Ririn yang tak jelas sedang memiliki masalah apa. Aku jadi terus memikirkannya, padahal dia adalah anak yang ceriah dan selalu membuat orang disekitarnya merasa nyaman. Namun entah kenapa sekarang dia seperti selalu menutup diri dan menjadi begitu introvert. Dia mulai menjauhi teman-teman dan ketika istirahat, dia pergi ke ruang musik di belakang sekolah sendirian dan melarang yang lainnya untuk datang ke sana. Dia malah menyuruh yang lainnya pergi ke ruang musik yang satu lagi, bahkan aku sendiri sahabat dekatnya juga ikut-ikutan kena semprot. Semua teman-teman kecewa dengan perubahannya termasuk aku. Akan tetapi aku tetap mencoba meminta yang lain untuk memberikannya waktu sendiri, mungkin dengan begitu dia bisa merenungkan masalahnya dengan lebih tenang.

Ririn tak pernah tau meskipun kami bersahabat namun aku sebenarnya memendam rasa padanya. Dia takkan pernah tau bila aku tak mengungkapkannya, karena aku selalu bersikap seolah biasa saja sebagai seorang sahabat.

#Poem#
Sahabatku yang manis,
Kau takkan pernah tau ini
Perasaan yang ku pendam padamu
Perasaan yang sudah lama ku simpan
Sahabatku yang manis,
Hari ini ku kembali menulis tetang perasaanku
Akankah kau menyadarinya
Bila ku berikan tanda-tanda padamu
Tanda-tanda perasaan yang ada di hatiku
Tentang rasa ini,
Sebenarnya aku menyukaimu
Sebenarnya aku menyayangimu
Aku tahu aku mencintaimu
Namun kau takkan pernah tau itu
Bila ku tak mengungkapkannya
Karena aku selalu bersikap seolah biasa saja
Ingin ku mengatakannya
Ingin ku menyatakannya
Ingin ku mengungkapkannya
Namun ku belum siap
Ku masih ragu
Ku masih takut
Takut akan segalanya
Takut akan perbedaan kita
Takut apabila kau tau
Dan kau malah menjauh dariku
Sahabatku yang manis,
Haruskah ku jujur padamu
Jujur tentang semua perasaanku padamu
Bahwa aku mencintaimu
Inilah cintaku, Cinta Seorang Sahabat.
Yang kini berharap lebih
Ku berharap perasaanku kan sampai kepadamu
Menyentuh hatimu,
Membuka pikiranmu
Menyadarkan dirimu tentang aku
Bahwa aku mencintaimu
Inilah cintaku, Cinta Seorang Sahabat
####

Meskipun kami terlahir dari kepercayaan yang berbeda aku tak peduli, meski ku tau dari Pendetaku, terang dan gelap tak bisa dipersatukan. Namun bagiku terhadap dirinya adalah; cinta dapat mempersatukan segalanya dan itu berarti aku bisa menjadikannya sebagai kekasihku. Karena perasaanku ini sangatlah tulus dan jujur. Aku mau memperjuangkannya, meski ku sendiri belum berani mengungkapkannya.

Namun kini dia sedang dalam masalah. Dan dia mulai menjauhiku. Tawanya, Sinarnya mulai meredup. Aku tak tau apa yang harus ku lakukan untuk menolongnya, biar sinarnya kembali merekah indah dan kami kembali dekat lagi seperti sebelumnya. Aku mengerti akan perasaanku dan karena hal ini aku akan mencoba membantunya, aku harus kembali menemuinya.

"Ririn, lu lagi ngapain, brenti!" Nio kaget melihat Ririn sedang mencoba membaret urat nadinya dengan silet yang mungkin dibawanya dari rumah dan disimpan di balik sakunya.

"Gue mau mati aja. Gue udah gak layak hidup di dunia ini, gue udah gak suci lagi. Gue udah gak perawan, gue udah diperkosa." Berteriak sambil menangis dan memegang silet ditangannya.

Nio tersentak mendengarnya, orang yang disayanginya kegadisannya telah direnggut oleh orang lain. Bagaimana dengan cintanya, apakah Nio bisa menerima dan tetap mencintai Ririn bila kejadiannya seperti ini?

"Please jangan Ririn. Gue gak perduli walaupun lu udah diperkosa dan lu gak perawan lagi, gue mau lu tau satu hal gue sayang banget ama lu. Dan gue gak mau lu berbuat nekat seperti ini. Please lepas silet itu Ririn. Gue sayang ama lu."

Ririn perlahan menjauhkan siletnya dari tangannya, meski dia masih tetap terseduh-seduh dalam tangisnya.

"Rin gue mohon..."

Ririn menatap mata Nio melihat keseriusannya, seakan gak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Nio sebelumnya.

Ririn pun melepas siletnya.

"Lu beneran sayang ama gue? lu mau jadi pacar gue?"

"Iya gue sayang banget ama lu. Gue mau jadi pacar lu."

"Meski lu tau gue udah kayak gini?"

"Gue gak perduli, karena cinta gue tulus buat lo! Jadi please, jangan berbuat bodoh lagi. Gue janji gue bakal jaga lo dengan seg'nap hati gue, gue juga bakal berusaha berikan yang terbaik buat lu, apapun asalkan kita bisa tetap bersama. Apa itu masih kurang? Jadi apa lu punya persaan cinta yang sama kea gue? Jika iya, lupakan semua yang udah menimpa lu dan jadilah kekasih sejati gue! Do you wanna be my lover?"

Ririn meneteskan air mata kebahagiaannya mendengar semua kata demi kata dari mulut Nio. Dan dengan mantap Ririn pun menggerakan bibir mungilnya. Terdengar suara pelan nan manis, namun mantap.

"Yes, I do. ... Please be mine. :') I love you Nio.."

"I love you too Ririn :')"

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai dari kawan-kawan Nio dan Ririn.

"Ciecie... Selamat ya, dah jadian ya. Bisa kali PJ-nya."

Nio kaget, "Loh ada apaan ini? Kok lu-lu pada ada di sini?"

Ternyata ini sudah direncanakan, Ririn bohongan diperkosa dan masih perawan. Semua ini dilakukan agar Nio mau menyatakan perasaannya.

Sebenarnya kejadiannya begini, sekitar tiga bulan yang lalu Ririn menemukan buku catatan pribadi Nio di dalam tasnya saat mau meminjam buku untuk mencontek. Kemudian Ririn membacanya bersama teman-teman yang lain di saat jam istirahat ketika Nio sedang pergi menemui Wali Kelas di ruang Guru, karena Nio adalah Ketua Kelas di kelas mereka yang sekarang. Di buku tersebut, terdapat segala macam tulisan Nio khususnya tentang perasaan cinta Nio yang terpendam kepada seseorang. Dan isi tulisan yang paling mendominasi merupakan berbagai jenis puisi-puisi Nio dan beberapa lagu yang diciptakannya, namun belum pernah di perdengarkannya kepada seorang temanpun di kelasnya. Termasuk sahabat dekatnya sendiri, Ririn. Melewati pertengahan buku catatan rahasia Nio tersebut, Ririn bersama yang lainnya akhirnya baru tau dan menyadari kalau ternyata orang yang disukain Nio tersebut tidak lain tidak bukan adalah sahabat sendiri si Ririn. Wajah Ririn kemudian tampak memerah seketika. Ririn yang ternyata juga menyukai Nio entah sejak kapan, kemudian menyusun rencana bersama yang lainnya agar Nio mau mengakui perasaannya cintanya kepada Ririn. Dan akhirnya terciptalah rencana Ririn tersebut, dimulai dari dirinya mencoba bersikap seolah menjauh dari yang lainnya dan kemudian berakhir seperti kejadian barusan. Awalnya rencana mereka memang tak berhasil dan sudah beberapa kali mencoba berbagai metode dan cara ampuh lainnya, tetap saja gagal. Sampai akhirnya cara terakhir pun berhasil. Dan kini Nio dan Ririn pun resmi berpacaran.

Kini hampir tiap kali saat jam istirahat di kelas, selalu terdengar musik dan nyanyian romantis dari seseorang untuk kekasih hatinya. Sang wanita yang mendengarkan tampak selalu begitu terhibur dan selalu tersipu malu dengan lirik gombalnya sang pacar.

Hubungan mereka memang tak selalu berjalan mulus dan tampak begitu indah. Namun pada akhirnya cinta yang telah mempersatukan mereka membuktikan bahwa ‘Cinta itu kuat bagaikan maut’ dimana mereka hidup bahagia meski memiliki perbedaa iman.

Nio dan Ririn, dari sahabat jadi cinta, dari cinta jadi dua sejoli. :D

Dan syukurlah cinta mereka berakhir bahagia.

Tamat.

Cinta Seorang Sahabat - Ferris dan Vena



[CERPEN]

  • Title : Cinta Seorang Sahabat - Ferris dan Vena
  • Genre : Friendship, Romance, Drama
  • Author : Prasetyo Peuru Henry Putra


Berawal dari perkenalan singkat, sekedar menyapa buat nambah temen di hari ke dua MOP di SMK dulu dan akhirnya semakin dekat. Gue sebut saja Ferris dan sahabat gue Vena. Kami bersahabat lamanya bentar lagi udah mau setengah tahunan, kami sering jalan bersama mengikuti ekskul yang sama. Setiap hari di sekolah nyaris selalu bersama, hanya karena beda kelas aja kami jadi gak bisa terus bersama. Karena kebersamaan kami, kami jadi diledekin temen-temen sebagai sepasang kekasih. Aslinya gue seneng juga digituin, karena jujur gue punya rasa sama Vena. Gue gak tau apakah Vena tau itu atau gak, tapi yang jelas dia sulit sekali ditebak. Gue pikir dia jago menyembunyikan perasaannya atau hanya gue yang kegeeran dan dia hanya anggep gue sebagai sahabatnya gak lebih.

Minggu kemarin kami baru selesai mengikuti UAS, nilai gue tentu aja bagus. Oh iya kami berdua masuk di jurusan yang sama, hanya beda kelas. Gue Multimedia 1 dan Vena Multimedia 2, peletakan murid. Caelah bahasanya peletakan, dikira bangunan. Peletakan siswa-siswi pokoknya MM 1 bukan berarti yang pinter-pinter MM 2 yang oon-oon. Gak begitu tapi emang muridnya di random. Oh iya untuk nilai Vena gue gak tau, karena gue gak sempet nanya. Biarlah yang penting kami udah selesai ujian dan gak ada yang remed di antara gue dan Vena.

Beberapa hari lagi Natal dan Tahun baru, intinya sekolah bakal libur dan itu berarti gue gak bisa ketemuan sama Vena, karena dia ada acara liburan sendiri sama keluarganya. Walau begitu kita tetep kontek-kontekan, yoi sahabat. Sahabat yang gue berharapnya akhirnya jadi Cinta. Hahaha... ssstt.. Jangan ketawa gede-gede. Jangan sampe Vena tau. Gue belum siap. Bah payah beud gue ya. Kayaknya kurang gentle dan menunda-nunda keadaan, pikirnya sih nunggu waktu yang tepat dulu. Tapi kalo yang disuka digebet orang duluan, entar adanya mewek lagi. Hadeuhh... jangan sampe - jangan sampe.

Skip

Akhirnya hari ini mulai sekolah lagi. Yeah gue bisa ketemu Vena lagi. Biarlah liburan yang mengasyikan telah selesai yang penting sekarang keasyikan yang baru akan datang.

Ferris, "Siang Vena. Gimana liburannya kemaren?" Ucapku basa-basi, sekalian kepo juga.

Vena, "Seru Fer, gue pulang kampung di Malang ketemu sodara-sodara yang laen, trus ketemu cowok cakep lagi. Yeah... Hahaha..." Seru Vena.

"Yaelah ngomongin cowok cakep lagi. Belum tentu lebih cakep dari gue. Hiks..." Grutu Ferris dalam hati.

Feris, "Kayaknya seneng banget lu ngomongin tuh cowok. Palingan juga masih gantengan gua. Hahaha..." ucap Ferris.

Vena, "Lu ganteng sih Ferr tapi dia tuh lebih cute. Dan dia tukeran nomor hape ama gue. Jadinya kita sampe kemarin terus kontek-kontekan deh, lewat sms lewat nelpon. Dan rasanya tuh... Menyenangkan......."

Ferris, "Lebay banget lu." Ucap Ferris bete.

Vena, "Kok lu gitu sih Fer bukannya dukung sahabat lu. Lu malah kayaknya gak seneng gitu. Kok lu gitu sih ama gue? Ok fine."

Ferris, "Iya deh gue dukung. Biar lu seneng." Ucap Ferris terpaksa.

Vena, "Nah, gitu dong. Ini baru sahabat gue yang baik."

Ferris, "Yaudah gue ke kelas dulu ya, udah mau bel masuk." Ucap Ferris memelas.

Vena, "Oke." Setuju Vena. Walau saat ini Vena melihat Ferris tampak tak bersemangat, berbeda dengan awal bertemu tadi.

Sekarang hati Ferris lagi gunda gulana, dia gak mau orang yang dia suka keduluan digaet ama orang lain. Tapi Ferris juga belum berani. Setidaknya sekarang dipikirannya gimana caranya dia bisa ngungkapin perasaannya ke sih Vena, orang yang dia cintai.

Skip

Vena tampak sedang bercakap-cakap dengan temannya yang lain di dalam kelas di jam istirahat. Sedang Ferris lagi galau sendirian di kelasnya, temannya ngajak keluar dan yang lain ngajak ngobrol dia malah asik galau-galauan sendiri. Lol. Vena lalu datang ke kelas Ferris.

Vena, "Fer jajan yuk. Laper nih. Ayuk bareng."

Ferris, "Yaudah deh yuk."

Temen-temen Ferris yang laen, "Wuuuhh... giliran diajak Vena aja baru mau."

Ferris, "Yeee... biarin. Sorry ye, gue tadi lagi bete. Sekarang gak lagi. Hahaha."

Vena hanya bisa tersenyum melihat kelakuan sahabatnya.

Ferris dan Vena pun jajan di kantin sekolah.

Skip

Dua bulan kemudian,

Vena, "Ferr, tadi gue ditembak sama Ryan orang Malang itu di sms. Gue harus gimana dong? Gue harus bales apa? Kasih saran dong." Ucap Vena ditelpon malam hari.

Ferris, "Hah, dia nembak lu. Lu minta saran gue bales apaan?"

Vena, "Iya, gue harus gimana nih, bales apa?" Panik.

Ferris, "Mending jangan lu bales dulu deh."

Vena, "Loh kenapa?" Bingung.

Ferris, "Ya mending lu pikirin baik-baik dulu aja deh."

Vena, "Gue udah mikirin bener-bener dari tadi keleus Ferr."

Ferris, "Besok aja deh balesnya. Lu ketemu gue dulu, sekalian gue liat smsnya."

Vena, "Gak mau. Gue maunya sekarang. Atau gue bales iya aja ya? Tadi dia nelpon gue tapi gak gue angkat."

Ferris, "Ven bales nggak."

Vena, "Lah kenapa?" Tanya Vena bingung.

Ferris, "Karena jujur, sebenarnya gue sayang banget sama lo. Dan gue udah nyimpen perasaan ini lama. Gue gak mau lu jadian ama dia karena gue mau lu jadi pacar gue. Vena, lu mau nggak jadi pacar gue?"

Vena, "What? Maaf Ferr gue gak bisa jawab sekarang, gue bingung. Gue jadi tambah bingung tau gak. Sorry ya." Telpon pun langsung dimatikan.

Ferris, "Hallo Ven, hallo... hallo..."

Ferris, " Yah dimatiin. Aduh apa yang udah gue ucapin tadi? Tapi kalo gue gak ngomong kayak gitu bisa-bisa dia beneran jadian ama tuh cowok yang namanya Ryan. Oh Tuhan semoga yang gue lakuin ini udah benar."

Ferris, "Gimana nih? Apa gue coba nelpon Vena lagi aja ya? Coba deh." Ucap Ferris dalam hati.

Ferris pun menelepon Vena. Tuut tuut tuuut... (Bayangin bunyi nelpon kayak gimana, jangan yang dipikirin malah kentut ya 'Author').

"Yahh.... gak diangkat."

Udah dicoba berkali-kali Vena gak mau mengangkat telponnya.

Disisi lain Vena jadi sangat bingung dengan pernyataan sahabatnya Ferris. Entah perasaannya harus senang atau sedih. Yang jelas Vena saat ini begitu bingung.

Vena, "Kenapa sih Ferr lu harus bilang sayang ama gue. Padahal gue udah nyaman sahabatan ama lu dan gara-gara lu juga, gue jadi ngomong ke Ryan kalo gue gak mau jadi pacarnya dan tetap temenan aja. Lu bikin gue jadi galau tau gak. Gue sebenarnya gak mau persahabatan kita berakhir, entah itu alasannya kalo misalkan kita jadian. Karena jujur gue udah nyaman dengan keadaan ini. Tapi sekarang lu malah ngomong mau gak gue jadi pacar lu. Gue harus jawab apa? Gue takut kalo gue jawab gak, lu kecewa dan gak mau sahabatan lagi ama gue disisi lain kalo gue bilang iya gue mau jadi pacar lu, trus kita pacaran dan suatu saat bermasalah dan kita gak bisa kayak dulu lagi. Karena gue udah pernah ngalamin hal itu dulu pas smp dan gue gak mau itu terulang lagi. Entahlah gue gak yakin dengan perasaan gue saat ini. Lu emang baik, care, bisa bikin gue ketawa, tempat gue bisa nyeritain banyak hal dan tempat gue bisa merasakan kenyamanan bila berada di sisi lo. Tapi itu cukup sebagai sahabat gak lebih. Gue yakin."

Dalam kegundahannya Vena pun terlelap.

Besoknya di sekolah Ferris mencoba menemui Vena, tapi Vena malah meminta Ferris untuk meninggalkannya sendiri.

Vena, "Please Ferr beri gue waktu sendiri dulu. Jangan ganggu gue sekarang. Gue gak mau denger satu katapun dari mulut lu."

Ferris, "Tapi Ven, gue ...."

Vena, "Please Ferr, tolong ngertiin gue."

Vena pun pergi meninggalkan Vena. Sedang teman-teman mereka yang lain mendatangi Ferris.

"Lu berdua kenapa? Kok gak biasa-biasanya kayak gini. Ada masalah apaan Ferr."

Ferris, "Maaf gue gak bisa cerita sob. Ini masalah gue ama Vena."

"Ceritalah kali aja kita-kita bisa bantu." Teman kelasan Vena.

Ferris, "Gue gak bisa kasih tau sekarang. Nanti ajalah ya. Sorry ya."

"Yoi, semoga masalah lu ama Vena cepet beres ya dan agar lu berdua akur lagi. Oke" semangat dari teman-teman kelasan Vena.

"Thank you sob. Gue balik ke kelas dulu."

Skip

Sudah 3 hari Vena dan Ferris tidak jalan bersama, Vena juga tidak bisa dihubungi. Besok hari sabtu, lusa Minggu.

Ferris, "Sebelum minggu depan gue harus nyelesain masalah gue ama Vena. Gue harus ngeyakinin dia. Setidaknya kalo dia gak mau jadi pacar gue, dia harus tetep jadi sahabat gue. Gue gak mau putus hubungan ama lu Vena. Maafin akan perasaan gue ama lu. Sial kenapa gue harus memiliki perasaan ini ama lu? Tuhan tolong Ferris. Kalau Vena emang cinta sejati Ferris jadikanlah dia kekasih Ferris. Tapi kalau Vena bukan jodoh Ferris, biarlah Vena tetep jadi sahabat baik Ferris. Amin."

Tiba-tiba handphone Ferris berdering, "Let it go... Let it go...."

Ferris, "Hallo Vena!" :)

Vena, "Ferris gue mau ngomong ama lu. Lu bisa gak dateng di taman deket rumah gue?"

Ferris, "Bisa."

Skip

Vena menunggu Ferris di taman malam itu. Sekitar 10 menit menunggu dan Ferris pun tiba.

Skip

Vena, "Fer gue mau jawab pertanyaan lu yang beberapa hari lalu. Apakah gue mau jadi pacar lu atau gak. Pertama, gue pengen cerita. Cerita yang belum gue ceritain ke lu. Dulu pas smp gue punya sahabat deket dan akhirnya kita pacaran. Tapi karena suatu masalah kita akhirnya putus dan karena hal tersebut gue akhirnya putus hubungan ama dia. Kita jadi jauh-jauhan dan gak deket lagi seperti dahulu. Gue mau ngomong ini karena gue gak mau hubungan kita kayak pengalaman gue dulu. Jujur gue udah nyaman ama persahabatan kita, tapi gue juga gak memungkiri bahwa ternyata gue punya rasa ama lu. Maafin gue karena beberapa hari ini gue ngejauhin lu. Gue cuma butuh waktu sendiri untuk ngeyakinin perasaan gue sendiri. Dan setelah gue pikir-pikir, sebelum gue jawab pertanyaan lu, gue butuh jawaban dari lu buat ngeyakinin gue bahwa hubungan kita gak bakal putus entah itu sebagai sepasang kekasih atau sebagai sahabat."

Cinta sebenarnya ku mencintaimu

Tapi ku meragu

Ku menutup ruang itu karena pengalamanku dahulu

Aku ingin hubungan kita takkan berakhir

Sebenarnya ku sudah nyaman dengan persahabatan kita

Tapi bila kau meminta lebih aku tak tau

Jujur aku juga mencintaimu

Tapi karena hal ini membuatku tak pasti

Karena ku takut kan terjadi lagi

Masalah yang membuat kita berpisah selamanya

Yakinkan aku bahwa takkan terjadi seperti itu

Yakinkan aku kau kan tetap denganku apapun yang terjadi

Maka ku kan menerima cintamu

Karena aku juga punya rasa yang sama

Yakinkan aku Cinta.

Yakinkan Aku Cinta

Ferris pun menjawab, "Vena terima kasih lu udah mau cerita hal itu. Dan makasih karena udah punya rasa yang sama ama gue. Dengan hal itu udah cukup bagi gue untuk menjadikan lu kekasih gue, gue janji gue gak bakal melakukan hal yang sama seperti mantan sahabat lu dulu. Dan bila kita jadian, gue bakal mastiin hubungan kita bakal kayak sahabatan, pacar sekaligus sahabat. Oleh karena itu maukah kamu jadi pacar gue?" Ucap Ferris sambil lalu berlutut di depan Vena.

Vena, "Ya, gue mau."

Akhirnya Ferris dan Vena pun menjadi sepasang kekasih dan mereka tetap bersahabat sampai saat ini sebagai sepasang kekasih. Hahahaha.... ciecie xD9 yesyes

Tamat

The Story of Bebed - Part 1: Bebed



Part 1: Bebed
-----------------------------

Pada suatu hari ada seorang anak yang suka makan keju, namun dia malah dikasih cokelat. Makanya dia menangis. Siapakah dia? Namanya adalah Bebed. Dia adalah anak lelaki yang juga jahil dan suka iseng kepada semua orang, mau itu orangtuanyA, saudaranya, bahkan guru-gurunya pun suka diusilin oleh Bebed.

Suatu ketika, Bebed dipanggil oleh seorang anak gadis yang cantik dan manis, hanya dia lupa namanya Bebed. Makanya sang gadis memanggilnya, "Bebeb". Dan teman sekelasnya pun menggosipkan bahwa gadis manis dan cantik tersebut adalah pacar Bebed. Karena hal tersebut, sang gadis cilik tersebut yang bernama Tasha, menangis histeris karena diledek seluruh teman sekelas. Bebed malah merasa diuntungkan karena dia dibilang berpacaran dengan anak gadis yang cantik.

Sekarang Bebed sudah kelas 6 SD, mereka sudah memasuki masa persiapan untuk ujian kelulusan. Ternyata walaupun Bebed anak yang jahil, namun sebenarnya Bebed adalah anak yang pintar. Hanya selama Bebed kelas 1 SD sampai kelas 5 SD, Bebed selalu masuk urutan 20 Besar dari 23 siswa yang sama sampai kelas 6 SD sekarang. Entah kenapa pada saat ujian test untuk persiapan UAN, Bebed termotivasi untuk menunjukkan kepintarannya dengan mencoba mendapatkan nilai sempurna disetiap soal yang diberikan guru. Alhasil ternyata Bebed mendapatkan nilai sempurna untuk semua pelajaran dengan sukses. Akan tetapi karena hal itu pun, teman-temannya yang merasa terkalahkan oleh Bebed mengatakan pada wali kelas bahwa Bebed mencuri hasil kunci jawaban dari semua soal mata pelajaran. Dengan berani Bebed pun membuktikan pada semuanya bahwa dia mengerjakan dengan murni dan meminta wali kelasnya Bu Fitri untuk menguji dirinya. Demi terlihat keren dihadapan Tasha dan tentang janji mereka bahwa bila Bebed sukses dalam test ujian maka Tasha akan memberikan 10 box keju, Bebed pun menunjukkan kehebatannya.

Melihat kehebatan Bebed yang ternyata merupakan bocah jenius, Tasha pun mulai menyukai Bebed.

Akhirnya Bebed dan semua siswa-siswi kelas 6 SD Maju Jaya selesai melaksanakan Ujian Akhir Nasional. Sebelum pengumuman hasil, sekolah mengadakan acara pentas seni seminggu sebelum pengumuman. Bebed tampil dalam acara pentas seni tersebut sebagai Romeo dalam cerita Romeo dan Juliet, disandingkan dengan Tasha sebagai Julietnya. Pada pentas tersebut, Romeo dan Juliet seharusnya berdansa pada akhir acara, namun yang dilakukan oleh Bebed malah dia menari harlem shake dan membuat gadu acara drama teatrikal sekolah kala itu. Meski begitu, hal tersebut pun menjadi kenangan lucu yang takkan mudah terlupakan.

Sayangnya pada saat kelulusan, Bebed yang mau bersekolah ke SMPN 1 Tampelan harus berpisah dengan Tasha yang pindah ke Jakarta. Walaupun senang dengan hasil kelulusannya yang menunjukkan Bebed sebagai siswa dengan nilai terbaik alias juara 1(satu), Bebed tetap terlihat kecewa karena harus berpisah dengan Tasha.

TBC

Wish Come True - Anna x Erlan & Shinigami Myo



Wish Come True

---------------------

Menggendarai sepeda motor maticku, aku segera menuju ke tempat sahabat baikku Erlan. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepadaku. Aku jadi penasaran apa itu?.

Dalam perjalanan pikiranku terus melayang. Sepertinya ada yang aneh dengan sikap Erlan hari ini, tak biasanya juga dia menghubungiku untuk mendatangi apartemennya jam segini. Apa dia gak bisa menunggu sampai besok? Sekarang kan sudah mau jam 10 malam. Apa dia mau membuatku menginap di rumahnya?

"Sih bodoh itu.. Apa sih yang ada dipikirannya menyuruhku datang ke kediamannya jam segini. Meskipun dia sahabat baikku dan orang yang paling aku cintai (meskipun aku tak pernah memberitahukannya hal tersebut 'tentang cintaku'). Tapi apa dia pikir bagus membuat gadis manis sepertiku datang ke tempatnya sendirian, malam-malam begini?"

"Apa dia mau berbuat hal-hal yang aneh-aneh nanti kepadaku? *blushing* Tidak.. tidak.. tidak.. Erlan bukan orang yang seperti itu. Ahkh.. Semakin ku berpikir tentang itu, aku semakin pusing. Lagipula dia bilang ada hal penting yang harus dia sampaikan. Aku harus percaya padanya..."

'Tapi.. tapi.. Kalau dia bilang dia mencintaiku. Ehehehe... Tanpa basa-basi aku akan langsung menjawab, YA Lalan(panggilan akrab Erlan dari Anna), aku juga mencintaimu. Menarik kepalanya dan *censored*:p' khayal Anna di dalam pikiran nakalnya. 'Kyaaaa~ itu pasti akan jadi malam yang panjang dan sangat romantis antara kami berdua :3 fufufu~'

Terlarut dalam khayalan erotisnya, Anna segera tersadar dan kembali fokus ke jalanan, mengerem motornya karena lampu merah di depannya.

"Hmm.. sebentar lagi aku akan segera tiba di tempat Lalan dan mengetahui apa yang mau dia sampaikan..."

Lampu Hijau. Anna kembali menarik gas motornya. Tiba-tiba...

Zreeedddd...... Bruakkkkk... Darrr. !!!!!!!

|

|

|

Ting.. Nung.. Ting.. Nung.. Ting.. Nung.. Ting.. ~~~~

Bekas lokasi kejadian kecelakaan memperlihatkan tumpahan banyak darah di satu tempat di jalan raya tersebut. Tempat tumpahan darah yang paling banyak di jalan tersebut adalah tempat dimana Anna tergelak tadinya akibat kecelakaan tersebut.

Anna Soul, "Are.. dimana aku sekarang. Apa yang terjadi barusan? Eh~ itu. Itu kan diriku? Tubuhku? Lantas aku ini sekarang apa? Haaaahhh??!!! Apa aku sekarang sudah mati? Ah.. Tidak... Tidak... aku bahkan belum sempat mendengar apa yang mau disampaikan Erlan. Aku bahkan belum jujur menyatakan perasaan terpendamku kepadanya. Aku bahkan belum merayakan ultahku yang ke 26 yang tinggal 5 hari lagi. Oh Tuhan bagaimana ini? *crying baby*"

Tiba-tiba cahaya misterius muncul di depannya. Keadaan lingkungan berubah seketika.

"Hah.. Dimana aku sekarang? *panik*" Anna memperhatikan keadaan sekitar, sesuatu yang baru pertama kali iya saksikan. Tempat yang jauh berbeda dari dunia tempat ia hidup.

Seseorang kemudian muncul dihadapannya.

"Anna.. Selamat datang di 'Tahap Pertama Alam Baka'. Disini adalah tempat pertama yang akan menentukanmu menuju surga atau neraka. Perkenalkan, aku adalah Shinigami (Dewa Kematian) yang ditugaskan untuk menginvestigasimu. Myo, panggil saja aku Shinigami Myo."

Anna facepalm sambil mangap.

'Tahap pertama alam baka?.. Investigasi? Orang ini ngomong apaan sih?' Anna merasa dibodohi. 'aku pasti lagi mimpikan..? aku pasti lagi mimpi, semoga ini hanya mimpi aneh belaka ..'

Belum sempat mencubit pipinya, omongan Anna dalam hati dipotong sang Shinigami.

"Ehem.. Anna kau tidak sedang bermimpi. Dan kau tidak sedang dibodohi!" Sang Shinigami mencoba menyadarkan Anna.

"Haaaahhh...." melongo. 'dia tau apa yang sedang aku pikirkan?'

◊ ◊ ◊

'Jadi aku sudah mati ya? Fuh~' mendesah kecewa dengan sedikit air mata keluar dimatanya. Entah kenapa pikirannya saat itu tertuju pada Erlan. Walau kini dalam wujud jiwa, entah kenapa dia bisa merasakan hatinya mulai terasa sakit menerima kenyataan pahit tersebut. Dia sendainya bisa mengulang waktu, sepertinya dia ingin kembali sebelum kematiannya dan menyatakan perasaannya yang sebenarnya terhadap Erlan, sebelum akhirnya dia dipanggil Tuhan, setidaknya dengan begitu pikirnya dia bisa merasa jauh lebih lega dan bahagia.

"Baiklah kalau begitu ada permintaan terakhir? Bila memungkinkan, maka akan aku kabulkan. Ini adalah penawaran spesial yang diberikan khusus untukmu dari para atasanku dan sudah disetujui God (entah kenapa memakai kata God untuk 'Tuhan, Dewa, atau Allah' dalam kalimat ini terasa jauh lebih sopan ). Mengingat kau juga sudah disetujui akan diterima ke surga. Dia (atasanku) memberitahukan hal ini melalui telepati. .... Hahaha... Kau sungguh beruntung nak. Kalau begitu apa permintaanmu?"

"Eh? Benarkah?" Anna tampak tak percaya namun sungguh bahagia mendengarnya.

"Ya" jawab singkat Shinigami Myo.

Tanpa pikir panjang dua kali Anna langsung menjawab.

"Kalau begitu permintaanku adalah ...."

◊ ◊ ◊

Anna membuka matanya perlahan.

"Dimana aku sekarang? ... Apa yang terjadi?"

Mencoba bangun untuk duduk bersandar.

"...Akh~ Perutku sakit.."

Disaat yang bersama Erlan masuk ke dalam ruang tempat Anna dirawat.

"Ah.. Aan(panggilan akrab Anna dari Erlan) kau sudah sadar. Eh?! Jangan bergerak dulu.., biar aku yang menaikan posisi tempat tidurmu. Tak perlu berusaha untuk duduk, soalnya perutmu masih belum begitu lama selesai dioperasi, jadi sebaiknya kau tetap tiduran saja dulu. Oke."

Erlan memutar pegangan (apa ya istilahnya? Lupa) untuk menaikan setengah bagian tempat tidurnya Anna agar Anna bisa tiduran dalam posisi yang memudahkan Anna untuk melihat keadaan sekitar ruangan.

"Hmm.. begini sudah pas kan?" tersenyum kepada Anna. "Syukurlah kau bisa kembali sadar. .. aku.. aku pikir ..." Erlan mulai meneteskan air matanya, Erlan mendadak 'pecah' menangis.

"Maafin aku Aan, semua ini salahku. Gara-gara aku, gara-gara keegoisanku, kau jadi terluka parah. Kau mengalami kecelakaan karena salahku. Maafkan aku.. *Cry* Maafkan aku.. Aku pikir aku akan kehilanganmu selamanya, aku kira kau akan mati dan meninggalkan aku selamanya. *Cry* *Cry* Aku sungguh takut kehilanganmu Aan, Aku sungguh merasa bersalah. Aku sungguh takut dan menyesal. .... Maafkan aku Anna, maaf ..." Erlan menangis sejadi-jadinya.

Anna terharu dan membelai kepala Erlan.

"Sudah jangan menangis lagi Lalan. Ini bukan salahmu.. Lagipula aku akan baik-baik saja"

Erlan menatap Anna dengan tatapan sedih dan bersalah. Sedang Anna memberikan senyum manisnya dengan tulus sambil memegang pipi kiri Erlan.

"Udah hapus air matamu. Anak laki-laki kok cengeng. Hmph. Apa perlu aku yang menyeka air matamu? Dasar Erlan manja.."

Erlan kemudian tersenyum lalu..

"Gak usah, aku bisa menyeka air mataku sendiri .." menyeka air matanya, kemudian menarik nafas dan menghembuskannya. *Phew* .... "Yang penting sekarang kamu sudah kembali sadar. Aku sangat senang. Syukurlah... Terima kasih Tuhan.."

Erlan mencoba menguatkan hatinya dari perasaan bersalah, namun mendengar kata-kata sahabatnya barusan sungguh membuat perasaan Erlan jauh lebih lega dan bersyukur karena Anna tampak baik-baik saja. Meski begitu Erlan tetap sedih melihat keadaan Anna.

"Oh iya, ini hari apa? ..tanggal berapa?"

Anna mengalihkan pembicaraan ketika dia mula teringat sekilas tentang kejadian saat bertemu sang Shinigami bernama Myo.

"Ini hari Kamis, tanggal 30 Juli 2015.."

"Berarti besok ulang tahunku ya?"

Anna bertanya sambil menunjukkan senyuman pahit(?) di wajahnya.

"Iya.." jawab singkat Erlan dengan senyuman balasan. Namun melihat senyuman Anna yang seperti itu, Erlan merasakan sesuatu yang mengganjal.

Mendengar jawaban singkat Erlan, sedikit jeda, Anna kemudian langung menyambung ucapannya.

"Kalau begitu, bisakah aku memintamu menghabiskan 1 hari penuh ulang tahunku bersamaku di sini besok?"

"Tanpa kau memintanya, aku akan melakukannya" Erlan sedikit jengkel mendengar ucapan aneh sahabatnya.

"24 jam ya"

"Iya......"

"Syukurlah.. makasih ya"

'aneh kenapa Aan berbicara seperti ini? Entah kenapa seperti ... Ah.. Tidak.. Tidak.. aku harus berpikiran positif. Aan pasti akan baik-baik saja.' Erlan merenung dalam hati pikirannya sesaat.

"Oh iya, ngomong-ngomong, apa perlu aku belikan kue ulang tahun untukmu? Mengingat kau belum bisa makan secara bebas karena kondisimu, aku jadi ragu untuk membelinya. ..."

"Kau sungguh tidak romantis Erlan. Hmph.. Masa masalah seperti itu kau tanyakan padaku, setidaknya kau berusaha untuk memberikanku sebuah kejutan. Bukannya malah mendiskusikannya denganku hal yang seharusnya menjadi surprise. Lalan bodoh. Bodoh, bodoh, bodoh.."

Anna bersikap kecewa dengan terang-terangan seperti anak kecil terhadap sikap tidak pekanya Erlan.

"Ah.. Maaf. ..Aduh... Lalan kenapa kau begitu bodoh sih, masakan hal seperti itu aja kamu gak nyadar. Harus diajarin berapa kali sih? Hehehe..."

Erlan meminta maaf sambil mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

"Dasar..." Anna tetap cemberut melihat tingkah bodoh sahabatnya.

"Jangan cembeyut gitu dong. Smile, smile.. biar tambah cakep"

Erlan berusaha merayu Anna agar tersenyum.

"Gak ah.. aku dah terlanjur bete. Hmph.."

Anna mencoba tetap gigih dengan pendiriannya.

"Tapi.. tapi, meskipun cemberut gitu, Anna malah kelihatan lebih manis loh!"

"Ihh.. apaan sih, Erlan becandanya gak lucu ah.." pipi Anna memerah mendengar rayuannya Erlan. Anna lalu mengembungkan pipinya.

Rayuan Erlan sukses. (^w~)v

"Ihh.. sih tembem imut bener deh.., tapi ini beneran kok. Anna kalo cemberut kelitahan manis, tapi kalo senyum pasti kelihatan jauh lebih cakep lagi!"

"Mulai deh.. mulai deh.. dasar raja gombal. ..." "Nih... Nih...!!" menunjukan ekspresi senyum paksa terhadap Erlan. "Puas.. Puas!! Huu~"

"Nah gitu dong. Kan cakep kalo senyum .."

"Hmph.."

"Lebih cakep lagi kalo senyumnya lebih natural.."

"Udah ahh.. Lalan daritadi banyak maunya.. Capek nih, udah aus juga. Mau minum jus alpukat. Beliin dong ayang Lalan."

Anna menghentikan guyonan mereka berdua dan menyatakan permintaan tenggorokannya yang sudah kering ingin meminum jus favoritnya.

"Oh.. ayang Aan udah aus toh daritadi. Kenapa gak langsung ngomong aja sih, biar kang Lalan langsung pesenin?.."

"Auh..ah.. kan tadi lagi ngobrol. ..Udah buru~ beliin"

"Iya..iya Permaisuri." Erlan beranjak pergi untuk membelikan jus alpukat pesanan Anna.

"Ah~ Lan.. tunggu bentar. Ambilin Aqua yang itu dong deketin di sini, biar aku gampang ngambil minumnya. Sorry ya ngerepotin.."

"Iya woles..."

Erlan pun memindahkan Aquanya ke meja yang berada di samping Anna.

"Makasih ya ayang Lalan. ..tapi kok Lan, kok gak ada buahnya sih di sini? Biasa kan kalo orang lagi sakit di rumah sakit pasti ada buahnya kan? Kayak di sinetron mah drama di TV-TV!"

[Note: Anna belum pernah dirawat seperti ini sebelumnya dan juga tak pernah punya pengalaman sebelumnya mengunjungi rumah sakit. Jadi dia hanya menyimpulkan keadaan rumah sakit dari media masa yang dia saksikan entah dari TV, Internet atau apapun itu yang sejenis. –Kesimpulan: Anna adalah wanita yang memiliki fisik sehat dan terpaksa harus masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan dalam cerita ini. *this just fiction*]

-_- "kok sekarang jadi Aan yang banyak maunya sih. Korban sinetron mah drama TV nih kayaknya, pake disama-samain ama yang begituan. Hahaha.. ..Maaf deh An, soalnya aku sibuk ngawatirin sambil ngejaga kamu dari kemaren. Jadi gak sempet kepikiran buat beli buah-buahan. Semalam aja aku gak tidur loh gara-gara ngejagain kamu. Ntar ku beliin deh ya?"

Wajah Anna seketika memerah mendengar ucapan Erlan yang khawatir terhadap dirinya.

"Maaf... Makasih ya Lalan dah perhatian dan ngawatirin aku. Udah mau ngejagain aku.."

"Gak pa-pa kok. Kamu kan sahabat spesial aku satu-satunya .."

Anna sedikit tersontak mendengar ucapan Erlan barusan.

"Lagipula kamu bisa masuk rumah sakit juga, karena termasuk kesalahan aku"

"Udah aku bilang kan tadi, itu bukan salah Lalan. Jangan diungkit lagi soal itu ya. ..Kalo gitu udah sana, beliin aku jus alpukat dulu. Cepetan ya yayang Lalan"

"Iya-iya.., nona besar." Erlan pun beranjak pergi.

Seperginya Erlan, Anna merenung.

'Sahabat ya? Iya.. Sampai saat ini aku kan hanya jadi sahabatmu saja, gak lebih. *Hiks* Apaan sih Anna, kamu mikirin apa? Kita cuman sahabatan gak lebih. ...' Anna meneteskan air matanya.

Sambil menunggu Erlan kembali, Anna mencoba menenangkan dirinya dan berusaha terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

Disaat menunggu Anna teringat perjumpaannya dengan Shingami Myo.

....

Seorang suster kemudian masuk untuk memeriksa keadaanku.

◊ ◊ ◊

Setelah seorang Suster melihatku yang telah sadar, sang Suster menghubungi Dokter yang bertugas untuk merawatku (mencheck-up, memulihkan kondisiku, etc.). Sang dokter memeriksa dan berbicara banyak hal denganku tentang kondisiku.

Tak lama Erlan muncul sambil membawa Jus Alpukat pesananku. Erlan juga tampak sedang menikmati jus yang dia pesan, tampaknya itu jus melon dilihat dari warnanya. Lagipula tak salah lagi tebakan Anna, karena sahabatnya itu memang dari dulu diketahui menyukai jus melon. Alasannya karena menurut Erlan jus melon rasanya mirip dengan es campur yang suka dia pesan semasa remaja dan mengingat rasanya yang persis dengan jus melon, Erlan jadi termindset untuk lebih memilih jus melon dibanding dengan es campur disebabkan oleh harga jus melon yang jauh lebih murah. *Hahahah~*

[Sebenarnya soal jus alpukat dan jus melon, itu diambil dari kehidupan pribadi Author XD. Dimana jus alpukat merupakan jus favorit author, plus soal jus melonnya diambil dari pengalaman author yang menikmati rasa jus melon yang mirip rasa es campur. Dengan alasan itu auth jadi suka mesen jus melon selain jus alpukat terkadang. Dan bila ada penjual menjual jus melon dan es campur secara bersamaan, (mengingat pengalaman sebelumnya tentang rasa yang persis tersebut) author akan prefer ke jus melon dengan alasan simple harga yang lebih murah dan alasan rasa sebelumnya tadi. LOL. –Auth curhat(?) *maaf kalo note ini mengganggu pembacaan alur cerita. Silahkan kembali meneruskan membaca isi cerita.]

Erlan menghampiri Anna bersebelahan dengan sang dokter.

"Oh iya dok, kalo saya boleh minum jus alpukat boleh gak saat ini? Sama pantangan makanan yang gak boleh ku makan apa aja? Makanan apa aja yang bisa ku konsumsi saat ini?"

Anna mengajukan beberapa pertanyaan kepada sang dokter.

"Kamu nanya apa wawancara An? Satu-satu apa biar bu dokternya gak ribet jawabnya. Hahaha"

Erlan meledek Anna dengan sedikit bercanda. Anna hanya jadi sedikit malu dan berkata "apaan sih?". Sedang sang dokter hanya tersenyum, memaklumi dengan tetap menjaga wibawanya di depan mereka.

Sang dokter pun mulai menjelaskan secara rincih mengenai pertanyaan dari sang pasien, Anna.

◊ ◊ ◊

Petang ini Anna berada sendirian di kamar rumah sakit tempat dia dirawat. Erlan sendiri sedang keluar dengan alasan ada yang perlu dia urus di rumahnya. Anna sendiri sebenarnya sudah tau alasan Erlan pergi saat ini sebenarnya untuk mempersiapkan ulang tahunnya pada esok hari. Dan sesuai janji yang dia minta terhadap Erlan, Erlan harus menemani Anna di hari ulang tahunnya selama 24 jam dan itu berarti Anna hanya perlu menunggu Erlan tiba nanti pada pukul 12 (dua belas) tengah malam nanti.

Anna kembali teringat kejadian pertemuannya bersama sang Shinigami Myo.

Dalam flashbacknya tersebut tanpa sadar ia (Anna) sudah terlelap dalam tidurnya, namun dalam keadaan tidur tersebut pikiran Anna tetap tertuju pada ingatan flashbacknya tersebut yang terus berputar.

Anna FLASHBACK.

....

"Kalau begitu permintaanku adalah aku ingin bisa bersama Erlan dalam keadaan hidup di hari ulang tahunku yang ke 26 nanti."

"Apa kau yakin?"

Shinigami Myo mencoba menanyakan kembali kepastian akan permintaan Anna. Belum memberikan kesempatan Anna untuk balas menjawab pertanyaannya, Shinigami Myo kembali melanjutkan ucapannya.

"Resiko membuatmu hidup kembali, meskipun kau tetap akan kembali mati setelah ulangtahunmu berakhir pada tanggal 1 Agustus 2015 nanti. Bila kau membuat kesalahan dalam sedikit waktu hidupmu nanti, kau bisa berakhir dengan mati menuju neraka!"

Shinigami Myo memperingatkan Anna sebuah resiko.

Anna tampak shock mendengarnya. Shinigami pun Myo melanjutkan.

"Jadi apakah kau akan tetap yakin dengan permintaanmu tersebut, atau kau mau mengubah permintaanmu tersebut?"

"Mmm~" Anna memberikan respon suara mmm menandakan dia sedang berpikir mengatasi permasalahan dari apa yang harus dia lakukan mengenai permintaannya tersebut.

Diam beberapa saaat dalam pikirannya dihadapan Shinigami Myo yang sabar menanti jawaban Anna tersebut, Anna pun siap dan memberikan respon yang pasti dari pertanyaan Shinigami Myo tersebut dengan penuh keyakinan.

"Keputusanku sudah bulat. Aku tetap pada permintaan awalku, aku yakin aku tidak akan melakukan kesalahan yang nantinya membuatku masuk ke dalam neraka."

"Kenapa kau begitu yakin? Apa alasanmu ingin kembali hidup hanya untuk merayakan ulang tahunmu yang terakhir bersama pria yang bernama Erlan tersebut?"

Bersikap seakan tidak mengetahui perasaan Anna, Shinigami Myo mengajukan pertanyaan untuk mengkonfirmasi jawaban Anna.

"Aku hanya percaya saja. Lagipula alasanku sudah jelas karena aku sangat mencintai Erlan, setidaknya aku ingin dia tau perasaanku yang sebenarnya terhadapnya. Aku ingin merasakan akhir hidupku bersama orang yang ku cintai di hari spesialku yang tinggal beberapa hari lagi. Aku hanya ingin dia tau. Dengan begitu perasaanku akan jauh lebih lega. Ditambah ini satu-satunya kesempatan terakhirku untuk mengungkapkannya kepadanya!"

Mendengar hal tersebut Shinigami Myo sudah bisa menyimpulkan dan menerima konfirmasi dari atasannya mengenai jawaban terhadap permintaan Anna dan pernyataannya tersebut. Shinigami Myo pun menyatakan suaranya.

"Mendengar semua pernyataan dan kebulatan tekadmu terhadap permintaanmu, maka dengan ini dinyatakan bahwa permintaanmu diterima!"

Cahaya terang menyilaukan pemandangan Anna.

FLASHBACK End.

Disaat Anna terlelap Erlan sudah menyiapkan pesta ulangtahun terhadap Anna dengan menghias ruang rumah sakit dan mengumpulkan berbagai perabotan keperluan untuk ulang tahunnya, tentunya hal tersebut dengan persetujuan pihak rumah sakit.

Erlan sibuk mempersiapkan segala keperluan yang dikiranya penting untuk pesta ulangtahun Anna, dengan berusaha tetap menjaga agar Anna tidak tersadar disaat persiapannya tersebut. Tentunya Erlan mengetahui resiko Anna bisa bangun kapan saja ketika dia sedang mendekor ruangan tempat Anna dirawat, namun Erlan tak memperdulikan hal tersebut dengan tetap percaya dan melakukan yang terbaik sebisanya.

Persiapan pun telah selesai sebelum jam benar-benar menunjukan pukul 00.01.

Menunggu waktu yang terus berputar sebelum hari ulangtahun Anna. Erlan menatap Anna yang masih terlelap dalam tidurnya. Erlan menatap dengan penuh perasaan sayang. Erlan mengelus pipi kiri Anna dengan lembut, dengan tangan kanannya.

"Aan sayang.. sebenarnya aku sayang banget ama kamu. Perasaan sayang ini bukan sekedar perasaan sayang terhadap sahabat seperti dulu. Sebenarnya aku udah mulai jatuh cinta ama kamu sejak 3 tahun yang lalu. Namun aku tetap ngejaga perasaan ini tersimpan, karena aku terlalu takut dengan jawabanmu nantinya. Aku ingat waktu kita berusia 12 tahun dulu di panti asuhan, kita pernah berjanji untuk menjaga persahabatan kita selamanya, kita sendiri udah bersahabat sejak kita berusia 8 tahun. Karena hal tersebut aku jadi ragu dan takut kalo nantinya aku ngungkapin hal ini dan persahabatan yang udah kita jaga sampai saat ini malah hancur dan berakhir. Soalnya aku juga ingat kejadian saat umur 17 tahun dulu dan aku becanda bilang aku suka ama kamu dan kamu malah marah dan gak mau ngehubungin aku lagi selama beberapa minggu. Padahal aku udah sms ngejelasin kalo itu cuma becanda pas malam harinya di hari aku nyatain hal tersebut, tapi kamu tetep gak mau balas dan jawab sms maupun telpon dariku selama beberapa minggu. Sampai aku akhirnya datang ke rumah Nenek angkatmu, tempat kamu tinggal dulu. Dan semua masalahpun selesai. Tapi dari situ aku jadi nyadar kalau aku sebaiknya tetap ngejaga hubungan persahabatan kita ini. Akan tetapi gak mau memungkiri perasaan aku yang sebenarnya sejak 3 tahun lalu, aku sebenarnya maunya hubungan kita lebih dari sekedar sahabat An. Aku pengen kamu jadi someone yang jauh lebih spesial dari itu. Aku pengen kamu jadi kekasihku. Kekasihku seorang.."

Menyelesaikan pengakuannya tersebut disaat Anna masih tertidur, Erlan menggenggam tangan kiri Anna dengan kedua tangannya dan menciumnya. Erlan kemudian menyenderkan kepalanya ke tangan tersebut.

Selang beberapa menit menikmati perasaan nyaman tersebut. Erlan segera bersiap dan mengecek waktu di jam tangannya.

"7 menit lagi.."

Erlan segera berdiri, mengambil segelas Aqua dan menenggak air putih tersebut.

Erlan pun kemudian mempersiapkan Kamera Handycam untuk merekam prosesi momen disaat mereka merayakan ulangtahunnya Anna. Handycam tersebut ditaruh di depan tempat tidurnya Anna yang sedang dirawat, menggunakan tripod untuk menopang Handycam tersebut.

Kemudian Erlan menyalakan lilin berbentuk angka 26 tersebut.

Tinggal beberapa hitungan detik lagi dan Erlan akan menekan tombol record, video. Dan mulai menyanyikan lagu Happy Birthday sambil berusaha membangunkan Anna untuk melihat surprise dari Erlan, melihat wajah keterkejutan dan kebahagiaan dari Anna, mengucapkan selamat ulang tahun/happy birthday dan mendengar ucapan terima kasihnya, kemudian menunggu Anna membuat make a wish dan menyaksikan dia meniup kue ulang tahunnya dan sebagainya.

Itulah momen bahagia yang sebentar lagi Erlan tunggu.

◊ ◊ ◊

Selesai dari flashback tersebut. Anna kemudian tersadar dalam dunia dimana dia bertemu dengan Shinigami Myo.

"Kenapa aku kembali kesini secepat ini? Permintaanku kan belum terwujud?"

Anna mengajukan protes kepada Shinigami Myo yang sudah ada di depannya.

"Tenang.. tenang.. hal ini bukan berarti bahwa permintaanmu tidak jadi dikabulkan. Sebentar, lihatlah ke sisi sebelah kanan!"

Shinigami Myo menjelaskan dan menunjukkan kepada Anna pemandangan bagaikan Layar Bioskop (sebenarnya mau bilang layar LCD ato proyektor yang buat nampilin gambar/presentasi/Video/etc. tersebut. Tapi gak jadi.) yang menampilkan tayangan dimana Erlan sedang mempersiapkan proses untuk perayaan ulang tahun dan tubuh Anna yang sedang tertidur pulas.

Dalam hati Anna berkata, 'Bagaimana bisa? Bagaimanapun diperhatikan tubuhku masih tampak sedang bernafas'.

Anna menatap Shinigami Myo seketika.

Shinigami Myo hanya tersenyum ramah dan kemudian berkata.

"Inilah keajaiban Ilahi yang manusia biasa takkan pernah ketahui dan hanya beberapa orang terpilih saja yang bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Kau beruntung bisa melihat hal semacam ini Anna."

"Sebaiknya kau perhatikan dengan seksama apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan tenang saja, kau akan kembali tersadar di dunia tepat pada pukul 00.01." Shinigami Myo melanjutkan.

Anna pun tampak memperhatikan dengan serius. Anna tersenyum ketika melihat perjuangan Erlan yang tampak begitu bersungguh-sungguh.

Beberapa saat kemudian wajah Anna memerah, Anna lalu membungkam mulutnya dengan kedua tangannya, mengekspresikan sikap keterkejutannya terhadap pernyataan Erlan mengenai perasaannya terhadap Anna selama ini. Anna seakan tak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan dari tampilan pemandangan dunia asalnya tersebut yang tampak dari dunia spirit ini. Namun terlepas dari bagaimana dia menyaksikan hal tersebut, Anna tak dapat memungkiri perasaan luar biasa bahagianya mengetahui sahabatnya Erlan yang ia cintai memiliki perasaan yang sama dengannya. Ya ternyata mereka berdua diam-diam memang memendam perasaan cinta satu sama lain.

Tenggelam dalam emosi bahagianya (Anna). Shinigami Myo kemudian mengucapkan kata perpisahan sekali lagi kepada Anna.

"Nah.. sudah waktunya kau kembali ke dunia manusia. Lakukanlah yang terbaik. Sampai jumpa!!"

Sekali lagi cahaya menyilaukan menutupi pandangan Anna.

◊ ◊ ◊

Terdengar suara seorang lelaki menyanyikan lagu ulang tahun.

"Mmmhh~..." Anna merasa sedikit terganggu dengan suara nyanyian yang dia dengar.

"Happy birthday Anna, Happy Birthday Anna, Happy Birthday... Happy Birthday... Happy Birthday Anna..."

"Umm..." Seketika Anna membuka matanya lebar dengan ekspresi bloon.

Erlan sedikit tertawa dengan ekspresi bangun tidur yang ditunjukkan Anna. Itu benar-benar tampak lucu untuknya, namun lucu yang dimaksud disini sebenarnya lebih mengarah ke arah imut entah bagaimana.

Tertawa sedikit, Erlan kembali lagi lebih meriah menyanyikan lagu Happy Birthday kepada Anna.

"Eh?!" Anna merespon, baru sadar.

"Happy birthday ayang Aan yang ke 26. May your Wish Come True :D"

Erlan menyodorkan kue ulang tahun yang telah dipersiapkannya kepada Anna.

"Wah.. makasih yayang Lalanquww...(makasih sayang Lalanku)"

Mata Anna tampak berkaca-kaca melihat surprise yang Erlan buat. Kue yang disodorkan kemudian diterima dan ditaruh di kedua pahanya.

"Make a wish dulu dong."

Erlan mengingatkan Anna untuk berdoa untuk sebuah permohonan kepada Tuhan sebelum meniup lilinnya.

Annapun kemudian memejamkan matanya dan mengucapkan doa permohonannya dalam hati.

Selesai make a wish Anna menatap Erlan dengan senyuman manis dengan wajah memerah yang tak terlalu kentara karena lampu kamar yang dimatikan, hanya diterangi cahaya lilin, sambil berkata, "Dah.."

Suaranya pelan, singkat namun terdengar begitu imut dan menggemaskan.

Erlan kemudian dengat segera memegang kuenya, mendekatkan ke hadapan Anna dan mulai menyanyikan lagu.

"Tiup lilinnya, tiup lilinnya.. Tiup lilinnya ..."

Tanpa menunggu Erlan menyelesaikan nyanyian, Anna segera meniup kedua lilin yang menunjukan angka 26.

"Yeahhh...~"

Terdengar suara sorakan dari Erlan yang di susul suara sorakan gembira dari Anna.

Erlan lalu menaruh kuenya kembali ke paha Anna dan buru-buru menyalakan lampu ruangan, agar rekaman video ulang tahun Anna bisa tampak jelas ketika cahaya lilin kue sudah tak bisa lagi menerangi.

Rekaman yang sebelumnya pun sebenarnya tidak masalah meski hanya diterangi 2 cahaya lilin saja, karena meski lampu dimatikan, keadaan cahaya ruangan dalam rekaman video masih tampak cukup jelas meski memang tetap kelihatan agak sedikit gelap. [*Anggap saja karena kualitas handycam yang bagus, atau memang karena factor keadaan cahaya luar ke dalam ruangan, dan sebagainya.]

Setalah lampu menyala, Erlan kembali ke kursi di samping kanan Anna dan mengambil 2 buah piring kecil (apa ya istilah tepatnya?) dan sendok kecil. Erlan lalu mengambilkan pisau plasticnya yang berada di samping kue dan diberikan kepada Anna.

Sambil memegang 2 piring kecil dan 2 buah sendok kecil, Erlan mulai menyanyikan lagu ritual ulang tahun berikutnya. Sambil menunjukkan ekspresi bahagia menyaksikan Anna.

"Potong kuenya, potong kuenya, ..potong kuenya sekarang juga.., sekarang.. juga, sekarang juga..~"

Anna pun memotong sepotong kue yang terlihat sedikit lebih banyak dan menaruhnya ke salah satu piring kecil yang di pegang Erlan.

Sambil menyaksikan hal tersebut, Erlan memerhatikan dengan sedikit menunjukkan ekpresi bertanya-tanya mengenai kenapa tentang ukuran kue yang diambil Anna tampak cukup besar untuk porsi 1 orang.

'Aan lagi kelaperan ya? Ngambilnya kok banyak banget? Emang sih dokter bilang Aan boleh nyantap kue cake, meski dalam porsi yang gak boleh terlalu banyak. Porsi ini pun sebenarnya masih diperbolehkan, dan masih bisa nambah satu potongan kecil lagi. ..Tapi tak ku sangka Aan bakal makan sebanyak ini.. dia ngidam apa gimana?'

Anna yang melihat Erlan agak bengong pun bertanya.

"Lan.. Kenapa bengong?"

"Eh?.. Gak. Itu.. Kok tumben ngambil kuenya banyak banget?"

"Buat berdualah, kamu kira aku ngambil segini banyak buat makan sendiri ya? Wuuh~"

"Oh.. kirain. .... Eh??!! Berdua? Maksudnya suap-suapan?"

"Iyalah... Kenapa? Gak boleh?"

"Gak pa-pa sih. ..."

"Waktu masih kecil kan kita sering makan, sambil suap-suapan!"

"Itu kan dulu pas masih kecil"

"Jadi sekarang gak boleh?"

"Boleh sih... tapikan.." Pipi Erlan memerah.

Anna lalu segera mengambil kue dan sendok yang dipegang Erlan.

"Baiklah ini dia, Erlan!" Anna menyendokan kue dan .... "AAA~~~M"

"Eh...!?

"Ayo Erlan... Buka mulutmu~!"

"A... Ehh!? ..Apa ini?!"

Erlan tampak salah tingkah kali ini.

"Ayolah! Cepat makan!" Anna yang juga wajahnya memerah segera memasukan kue tersebut ke dalam mulut Erlan dengan menyuapinya.

"!?" 'E~...' Erlan agak kaget dalam hatinya.

"Kuenya ternyata enak juga"

Erlan mengomentari rasa kuenya dengan wajah memerah sambil mengunyah kemudian menelan kuenya.

"Benarkah? ..Kalo begitu sekarang giliranmu menyuapiku!"

"Eh? Aku juga harus melakukannya!?

"Y-ya"

"Ba..baiklah ini dia!?!"

"A~~~m"

Erlan dan Anna berganti-gantian saling menyuapi sampai kue yang di piring kecil tersebut habis.

'Jadi yang disuapi atau menyuapi ya..?! Meski dulu pernah melakukannya, tapi itu saat masih kecil. Jadi ketika saat ini melakukannya lagi, benar-benar terasa canggung dan sedikit memalukan? ..Walau begitu, tak bisa dipungkiri aku sungguh senang melakukan ini. ...Tapi, ngomong-ngomong, ini berarti sama aja seperti ciuman secara tidak langsung!!!"

Memikirkan hal tersebut seketika wajah Erlan langsung memerah secara penuh. Kalo digambarkan bagaikan termometer yang dipanaskan kemudian seketika itu juga garis penanda panas tersebut segera naik ke atas sampai penuh. (Coba bayangkan wajah karakter animasi manusia yang merasa malu kemudian wajahnya memerah, mulai dari leher yang memerah dan kemudian naik ke kepala dan mengembulkan asap seketika. XD If you know what I mean.)

Melihat wajah dan tingkah Erlan yang seperti itu, ditambah Anna yang juga sebenarnya sudah mengetahui bahwa Erlan memiliki perasaan yang sama terhadapnya, Anna mulai mencoba menggoda Erlan agar dia mengaku bahwa dia menyukainya (Anna).

"Hei.. hei.. Ayang Lalan, wajahmu terlihat begitu jelas memerah tuh. Kamu gak lagi sakit, atau panas kan?"

"Nggak~ sih.."

"Kalau gitu kamu malu ya tadi suap-suapan ama Aan?"

"....."

Erlan gak bisa berkutik, dan jadi bingung dan tak tau harus berkata apa.

"Kok malah diem sih??"

"Nggakk..."

"Oh.. Yaudah deh.. By the way, Lan kalo misalnya aku jatuh cinta ama kamu gimana?"

Anna menggoda secara stright to the point karena Erlan kayaknya terlalu malu untuk mengakui, pikir Anna.

"Eh?!.."

Kali ini Erlan yang tampak shock dan seakan gak percaya mendengarnya. Erlan memeriksa suhu tubuh kepala Anna. Dan mulai bertanya tentang keadaan Anna.

"Aan pas kecelakaan kepala kamu kebentur ya? ..Perasaan kamu sekarang gimana?, Kepala kamu kerasa sakit gak? Tapi kepala kamu gak panas kok? Apa perlu aku panggil dokter biar bisa meriksa keadaan kamu?"

Erlan panik mengira terjadi sesuatu yang aneh atau berbahaya dengan mentalitas Anna dan mengira mungkin terjadi benturan di bagian kepala Anna.

Anna yang melihat tingkah Erlan yang berlebihan dan kesalahpahamannya yang benar-benar bodoh, tampak facepalm, merasa sedikit kecewa dengan ketidakpekaannya, tak berdaya dan akhirnya menghembuskan nafas keluh dalam yang panjang.

"Lalan.. aku gak pa-pa. Kepala aku gak kebentur sama sekali kok! Aku bisa mikir dengan normal kali! Kamu kenapa sih? Kok reaksinya malah gitu sih?"

"Jadi, kamu gak pa-pa ya? Kalo gitu kenapa tadi kamu ngomong kalo misalnya kamu jatuh cinta ama aku?"

"Emang gak boleh ya?"

"Bukannya gitu.. Tapi dulu kan kamu bilang kita lebih baik sahabatan, kamu juga gak suka soal kita jadian dan kamu juga marah pas aku becanda bilang aku suka sama kamu sampe kamu gak mau ngehubungin aku selama beberapa minggu. Dan tentang janji kita untuk sahabatan selamanya juga!"

"Aku udah gak peduli lagi soal janji sahabatan kita selamanya. Kamu mau tau kenapa pas dulu, kamu bilang suka. Dan aku, kamu bilang marah karena hal itu?"

Erlan tak mengerti dan mencoba menyimak penjelasan sahabat tercintanya Anna.

"Asal kamu tau. Waktu itu, saat kamu ngomong kamu suka aku lewat telpon, sebenarnya aku dah seneng banget ngedenger hal itu. Namun karena panik, aku malah ngejawab. 'Kamu ngomong apaan sih?' dan segera menutup telpon karena aku bingung mau nanggepinnya gimana. Lalu ketika kamu nelpon malam hari, aku udah seneng banget dan mau jawab iya aku mau. Eh, tapi kamu malah ngomong kalo yang sebelumnya itu cuma becanda. Jelaslah ngedengar hal itu aku kecewa dan gak ngebalas sms-sms maupun telpon darimu selama beberapa minggu. Setelah udah beberapa lama gak berkomunikasi sama kamu, aku sebenarnya ngerasa menyesal dan akhirnya datang ke rumah nenek dan ngomong panjang lebar, sebenarnya aku tetep kecewa karena kamu bilang itu hanya guyonan. Namun karena aku gak mau hubungan kita bermasalah dan persahabatan kita hancur. Makanya aku maafin kamu. Namun perasaan sayang dan suka aku ke kamu sebenarnya udah mulai tumbuh sejak kita berusia 16 tahun dulu. Waktu itu untuk pertama kalinya kita bisa ketemu lagi setelah satu tahun lost contact karena kamu di adopsi sama seorang bapak yang akhirnya meninggal karena kecelakaan. Karena meninggalnya bapak tersebut kamu akhirnya kembali ke panti, mencoba menghubungi dari sana dan akhirnya kita bisa ketemuan lagi. Saat itu kamu benar-benar tampak berbeda dan entah kenapa aku ngerasa seneng banget karena dah lama gak ketemu. Dan kemudian lagi entah kenapa jantungku terus berdegup kencang saat dekat kamu, bahkan seusai kita berjumpa, ketika sudah di rumah pun jantungku tetap berdegup kencang ketika ngebayangin kamu. Dan jujur sampai saat ini perasaan itu masih tetap sama. Kamu gak tau kan 19 tahun persahabatan kita dan sebenarnya aku udah memendam perasaan cinta ini selama nyaris 10 tahun! Jadi kalau kamu mau tau kenyataan yang sebenarnya, inilah fakta mengenai perasaan aku ke kamu selama ini."

Anna menjelaskan panjang lebar dengan mata yang berkaca-kaca.

Erlan yang baru menyadari hal tersebut, akhirnya angkat suara.

"Maafin aku An, aku gak tau bahwa kamu udah mendam perasaan ini lama. Jujur, sebenarnya aku juga suka, sayang dan cinta sama kamu. Sayangnya aku baru menyadari hal tersebut 3 tahun yang lalu sampai saat ini. Dan meski begitu aku terlalu bodoh dan pengecut, gak berani ngengungkapin hal ini ke kamu sejak dulu. Bahkan saat ini, aku malah kalah ama kamu yang jujur duluan tentang perasaanmu. Tampaknya aku memang cowok yang benar-benar kurang peka. *Sigh* Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya aku juga mungkin udah menyukai kamu sejak kita berusia 14 tahun, itu adalah saat dimana kamu akhirnya diadopsi oleh Nek Rosna. Namun karena masih terlalu muda, aku pun mengabaikan perasaan itu dan mengganggap hal tersebut adalah perasaan persahabatan kita berdua, sebatas itu. Meskipun aku sangat kecewa dan sangat sedih ketika kita akhirnya harus berpisah untuk pertama kalinya. Bahkan kau tau, karena kau sahabatku satu-satunya di panti asuhan, sampai setahun kepergianmu dari panti asuhan aku masih tetap terus saja merasa kesepian karena tak punya teman. Aku merasa hanya kau yang cocok denganku, meskipun yang lainnya memang baik padaku, akan tetapi aku sungguh tak bisa berbohong kalau aku memang kesulitan bergaul dengan yang lain selain dirimu. Dan ketika kau menyempatkan untuk menelponku, itu adalah saat-saat yang sungguh mendebarkan dan membahagiakanku. Meski begitu ku pikir itu hanyalah sekedar perasaan persahabataan kita saja, gak lebih. Aku sungguh tak mengerti membedakan perasaan persahabatan dan cinta ketika itu, bahkan sampai sebelum 3 tahun yang lalu. Banyak hal yang telah terjadi. Dan setelah mendengar masukan dari teman kerja ku di kantor dan ketika aku memutuskan memperhatikanmu lebih lama dan mencoba merasakan perasaan yang ada dalam hatiku, aku baru menyadari saat 3 tahun yang lalu kalau aku sebenarnya suka, sayang dan sangat mencintaimu. Makanya aku seringan malah memutuskan bercanda untuk menggodamu. Dan tak berani mencoba untuk jujur saja. Aku sungguh membohongi bahkan mengkhianati perasaanku sendiri kepadamu dan itu rasanya jujur sungguh menyakitkan untuk tetap berusaha menjaga persahabatan kita ini, dengan menyembunyikaan kenyataan tentang perasaan cinta itu sendiri. Maaf karena kebodohanku, dan segalanya, aku sekarang mengerti dan tau bahwa sebenarnya kamulah orang paling tersiksa dalam keadaan ini. Maafkan aku, sungguh. Jadi.. Sekarang, kumohon, maukah kamu menikah denganku?"

Mendengar segala penuturan Erlan dan rapalan(?) ajaib Erlan yang terakhir, Anna benar-benar tak menduga bahwa Erlan aku langsung melamarnya.

Sedikit terkejut dan terdiam beberapa saat dengan posisi kedua tangan yang menutup mulutnya yang manis karena keterkejutan dengan lamaran yang tiba-tiba, tanpa pikir panjang lagi, karena inilah yang memang dia impikan.

"Ya, aku mau. Aku bersedia. Aku mau menjadi isterimu, pendamping hidupmu seumur hidupku!!"

"Yes!! Thanks God, Impianku jadi kenyataan. Ternyata benar, disetiap musibah itu selalu ada berkah yang Engkau sediakan. Seperti pelangi sehabis hujan!"

Erlan memanjatkan syukur dan terus bersyukur dengan apa yang telah terjadi. Kali ini Erlan benar-benar merasakan begitu bahagianya untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya.

Namun tiba-tiba suasana berubah.

Anna tampak menunduk sedih. Erlan yang melihatnya jadi bingung dan bertanya kenapa, Anna pun menjelaskan semuanya, pertemuannya dengan Shinigami Myo dan sisa waktu hidunya yang tinggal sampai pukul 24.00 hari ini atau jam 12 nanti malam. Awalnya Erlan tak percaya dengan apa yang telah dijelaskan Anna, namun pada akhirnya Erlan percaya setelah Anna menceritakan apa yang dilakukan Erlan sebelum membangunkan Anna untuk surprise birthday.

Menyadari hal tersebut Erlan ikut melemas, namun tiba-tiba entah kekuatan dari apa yang muncul dalam hati dan pikirannya, Erlan tiba-tiba menjadi teguh dengan imannya dan optimis terhadap cinta mereka berdua.

"Anna tenanglah, aku yakin kau akan baik-baik saja. Kau ingat ucapanmu kemarin kan? Bahwa aku tak perlu khawatir karena kamu akan baik-baik saja! Aku percaya hal tersebut, kamu pasti akan baik-baik saja. Percayalah dan terus berdoa!"

Erlan berusaha menguatkan Anna.

"Meski begitu, itu sudah ditetapkan."

"Kenapa kamu malah ngedown? Apa An gak percaya mengenai mujizat? Aku yakin mujizat itu akan terus terjadi sampai saat ini, bahkan selama-lamanya. Asalkan kita yakin, berdoa dan teguh kepadaNya! Bahkan bila kamu masih bisa tetap ada dalam keadaan seperti ini, dan semua kejadian yang sudah kamu alami sampai saat, bukankah kamu sudah melihat terlalu banyak mujizat?! Apakah An masih akan ragu kalau apa yang sudah ditakdirkan untuk An esok hari mungkin saja akan berubah, dan mujizat itu ternyata benar-benar terjadi lagi bahwasanya cinta kita yang tulus dan kuat diakui oleh sang Pencipta dan kita pun bisa bahagia bersama selamanya. Pernahkah An mendengar tentang kutipan ini? Dimana tertulis bahwa Cinta itu kuat seperti Maut!?! Itu berarti jika cinta kita kuat pasti meskipun An bilang kalau An akan meninggal besok, Lan yakin kalau Aan pasti masih akan tetap hidup sampai seterusnya. Entah mengapa Lalan begitu optimis kalau Aan akan tetap baik-baik saja!"

Anna benar-benar tersentuh dengan motivasi yang diberikan Erlan. Anna menjadi lebih tegar dan yakin.

"Lan kamu benar, dan aku juga akan tetap optimis kalau aku pasti akan tetap hidup besok bahkan seterusnya. Aku mungkin bisa dengan cepat masuk surga. Namun, entah mengapa dalam hati ini seperti ada ganjalan yang membuatku ingin tetap survive untuk hidup di dunia ini. Aku ingin menyatakan cintaku kepadamu, dan aku yakin ada alasan mengenai perasaan ini mengapa terasa begitu kuat, aku sendiri gak tau alasan tepatnya kenapa. Namun aku yakin, aku akan tetap hidup bersamamu dan ini adalah takdir sejatiku! Mungkin ini terdengar bodoh, namun dalam lubuk hatiku berkata bahwa aku harus tetap tinggal bersamamu dan ini belum waktunya untukku untuk masuk ke surga. Meski aku sendiri tidak memiliki bukti yang kuat untuk menyatakan kebenaran tentang hal ini, ini hanyalah intuisi pribadiku saja. Namun keyakinanku jauh lebih kuat mengenai hal ini."

Anna kemudian jadi teringat dengan doa permohonan yang ia panjatkan ketika membuat make a wish tadi. Anna pun menyinggung hal tersebut pada Erlan.

"Oh iya, Lalan kau ingatkan tadi bahwa sebelum aku meniup lilin tadi aku melakukan make a wish?! Kamu mau tau apa permohonan yang kupanjatkan tadi?"

"Apa?"

Erlan tampak begitu tertarik mendengar segala ucapan Anna, apalagi ketika Anna tampak kembali begitu bersemangat dan berpikiran positif lagi. Erlan pun bertanya dengan singkat.

Anna pun jujur mengungkapkan beberapa permohonan tulusnya, tentang dia ingin perasaan cintanya tersampaikan dan Erlan bisa jujur mengenai perasaannya kepadanya, dia ingin bisa menikah dengan Erlan, memiliki anak hasil buah cinta mereka, melihat mereka tumbuh, menjadi keluarga yang bahagia dan rukun, membesarkan anak mereka sampai mereka bisa hidup secara mandiri, melihat anak mereka berkeluarga kelak, menyaksikan cucu-cucu mereka bermain kesana-kemari. Dan apabila Tuhan berkata lain dengan tidak memberikan karunia anak sekalipun, dia ingin cinta mereka tetap kuat dan tak terpisahkan, hidup bahagia berdua dan terus saling mencinta sampai selama-lamanya.

Mendengar pengakuan jujur tersebut, Erlan benar-benar tersentuh dan jadi jauh merasa lebih mencintai Anna lagi dan lagi, sampai seluruh alam semesta bahkan takkan cukup sanggup untuk menahan besar dan luasnya cinta Erlan.

Hari itu menjadi hari yang terasa sangat panjang dan teramat indah bagi mereka berdua.

Tak terasa tinggal satu menit lagi sampai batas waktu penentuan.

Namun tanpa memedulikan hal tersebut, Erlan dan Anna sudah jatuh terlelap dalam tidur merka di kasur yang sama tempat Anna dirawat untuk dia beristirahat. Sebelumnya Anna memang meminta Erlan untuk menemaninya tidur di sampingnya, Anna menggenggam tangan kiri Erlan dengan erat untuk membunuh rasa takutnya terhadap kematian. Satu-satunya yang dia takuti bukanlah kematiannya sendiri, melainkan perasaan takut tersebut lebih ke perasaan takut terhadap perpisahan dengan orang yang paling ia cintai untuk selamanya.

Dan tanpa terasa satu hari tlah berlalu, suatu hal yang mengejutkan pun terjadi, terutama untuk sosok Erlan yang masih belum mampu dan siap untuk menerima kepergian Anna.

TO BE CONTINUED

---------------------

Ingat! Ini hanyalah cerita fiktif belaka. ;Dd

Oke.

****

Terima kasih sudah membaca. Hahaha.. Peace! v(^-^)l

©PrasetyoPeuruHenryPutra

.

.

.

.

Ending Story

Dan tanpa terasa satu hari tlah berlalu, suatu hal yang mengejutkan pun terjadi, terutama untuk sosok Erlan yang masih belum mampu dan siap untuk menerima kepergian Anna.

Erlan terkejut melihat Anna sudah tak berada di sampingnya lagi, Erlan menyesal berharap bisa mengulang waktu agar bisa melamar Anna lebih cepat. Erlan terpukul merasa bersalah dan menangis sejadi-jadinya.

Pintu kamar ruangan tersebut telah dibiarkan terbuka sejak Erlan terjaga dari tidurnya.

Mungkin mereka membawa mayat Anna di pagi hari ketika Erlan masih terlelap dalam tidurnya dan membiarkan pintunya tetap terbuka, pikir Erlan.

Menyesali hal tersebut, tak sempat memasangkan cincin di jari manis Anna, cincin yang sudah dipesannya untuk mereka berdua. Erlan pun semakin kencang dan lebih gaduh menangis sejadi-jadinya. Meratapi kepergian Anna.

Beberapa suster dan dokter yang lewat serta beberapa pasien dan pengunjung yang lewat, jadi penasaran dan mengecek keberadaan dari seorang pria yang menangis tak karuan tersebut.

Seorang dokter lelaki dan perempuan yang kebetulan lewat mencoba menenangkan Erlan. Para Suster yang masuk memeriksa dan menyaksikan sikapnya tampak khawatir. Para pasien dan pengunjung lainnya juga tampak saling berbincang memperbicarakan apa yang sebenarnya terjadi, meski mereka sendiri tidak tau pasti apa yang sampai menyebabkan pria tersebut, yakni Erlan jadi seperti ini.

Sang dokter pria mencoba menenangkan Erlan dan meminta penjelasan darinya, namun Erlan terus saja menangis. Sang dokterpun meminta seorang suster untuk memanggil dokter yang bertugas di ruangan ini untuk meminta penjelasan tentang penyakit pasien dan masalah yang dihadapi.

Sang dokter pria tersebut menyangka bahwa Erlan adalah pasien yang berada di kamar tersebut.

Erlan sendiri terus merengek seperti anak kecil.

Tiba-tiba seorang suster yang menemani seorang wanita pun masuk ke dalam.

Sang wanita yang ditemani suster tersebut tampak kebingungan dengan situasi aneh dalam ruang rawat rumah sakit tersebut.

Mengapa jadi banyak orang yang berkumpul di sini, pikirnya.

Sang wanita tersebut pun angkat bicara.

"Apa yang terjadi di sini Lalan? Mengapa ada banyak orang berkumpul di sini?"

Erlan yang sudah kecapean menangis menjerit tersebut dalam posisi menghadap kasur, tiba-tiba terhentak dengan suara tersebut. Sepertinya suara itu terdengar tak asing untuknya.

Erlan pun berputar dan menoleh ke arah asal suara.

Di hadapan kedua matanya, Seorang wanita yang tak asing berdiri dihadapannya sambil dibantu seorang suster yang membantu menopangnya untuk berjalan.

Sang wanita sambil dibantu sang suster berjalan mendekat ke arah samping kanan dari sisi Erlan.

Erlan masih tampak kebingungan dengan situasi sudah yang terjadi.

Kurang lebih 10 detik kemudian baru membuat Erlan sadar.

"Aan.... Kamu masih hidup?" Erlan bertanya memastikan seakan gak percaya. Atau mungkin ini hanya delusi dari Anna yang telah pergi meninggalkannya?!.

Sang wanita mengangkat suaranya dengan keras.

"Kamu kenapa sih Lan? Bangun pagi-pagi udah aneh-aneh aja? Aku kan cuman pergi ke WC bentar dibantuin Suster Meta! Ya jelaslah aku masih hidup! Kamu malu-maluin aja tau gak sih. Ngerengek kayak bocah begini.." Anna tak habis pikir dengan tingkah kekanakan Erlan. Sungguh apa jadinya bila Anna beneran mati, mungkin Erlan akan merasa bersalah berakhir bunuh diri, pikirnya.

Orang-orang dalam ruangan tersebut hanya terpaku menyaksikan adegan percakapan antara Erlan dan Anna.

Drama macam apa ini yang baru mereka saksikan?

"Tapi kemarin kamu bilang?"

"Itu kan hanya becanda, mana ada Shinigami? Mana ada aku bisa tau kapan aku bakal mati? Kamu ini, obrolan guyonan di anggap serius."

Anna pun meminta maaf kepada semua orang yang ada di sana untuk kekacauan yang tlah dibuat pacarnya, Erlan.

Para dokter termasuk dokter yang merawat Anna yang juga sudah datang dan mendengar kata-kata Anna barusan, para suster, pasien dan semua pengunjung yang tertarik menyaksikan adegan yang baru saja terjadi, akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi, ternyata itu hanyalah sebuah kesalahan seorang Pria bernama Erlan yang merasa percaya dengan guyonan mistis yang dibuat oleh kekasihnya. Setidaknya itulah gambaran singkat yang disimpulkan mereka ketika menyaksikan adegan 'drama singkat' barusan.

Seorang dokter pria yang menyaksikan hal tersebut sejak awal pun akhir nya memutuskan untuk segera keluar ruangan setelah menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka. Diluar ruangan tersebut terdengar sang dokter pria menyeletuk kepada rekan dokter wanitanya, "Drama Cinta rupanya. Hahaha~ Baru kali ini saya menyaksikan kejadian macam itu di rumah sakit loh, Dokter Miranda!" sang dokter wanita pun membalasnya. "Sama saya juga. Itu kejadian pertama kalinya untuk saya melihat kejadian seperti itu!"

Erlan menguping pembicaraan kedua dokter tersebut yang berjalan menjauh ke arah depan rumah sakit. Menyimak perbincangan terakhir kedua dokter tersebut, Erlan benar-benar merasa frustrasi dan tampak seperti orang bodoh beneran. Meskipun dia juga bahagia mengetahui kalau orang yang dicintainya Anna masih tetap hidup. Akan tetapi mendengar kata-kata Anna barusan benar-benar menghancurkan hatinya meskipun masih tetap bisa dipasang utuh kembali karena tulus cintanya terhadap Anna.

"Aan tolong jelaskan semua ini! Apa maksudnya yang kemarin itu hanyalah sebuah guyonan? Aku yakin dengan pasti bahwa kemarin itu kamu kelihatan jelas berbicara dengan begitu serius tentang semua yang kamu sampaikan kepadaku. Mengapa kamu jadi berubah begini? Meskipun aku senang kau tetap hidup sampai saat ini, setidaknya tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi! Aku sebenarnya kecewa dengan sikapmu tadi yang malah membuatku merasa semakin dipermalukan. Tapi aku yakin pasti kamu punya alasan yang sebenarnya untuk melakukan hal tersebut?!"

"Tidak. Mengenai hal-hal mistis tersebut, itu memang benar-benar hanyalah sebuah guyonan belaka. Aku hanya ingin mengetesmu saja untuk menguji seberapa besar cintamu kepadaku! Itu saja. Maaf ya, kalo terlalu berlebihan. Tapi, tampaknya aku memang memiliki bakat seni terpendam sebagai seorang artis ya? Fufufu~"

"Heee~~??"

"Jadi setelah kita keluar rumah sakit, kita akan menikah ya?!"

"Tidak.. Tidak jadi!!"

"Ehh!?~~ Kamu kan udah ngelamar aku. Jadi kamu harus tetep nikahin aku. Kamu harus bertanggung jawab dengan ucapannya!."

"Kau sendiri bagaimana? Gimana bisa kamu membohongi orang yang udah benar-benar tulus menyatakan cinta untukmu. Kau bahkan tega mempermalukan aku di depan mereka semua. TwT"

"Kalau soal itu aku minta maaf. Aku kan hanya berbicara jujur tentang yang kemarin. Lagipula aku sebenarnya bermaksud ingin menjelaskannya semuanya kepadamu tadi pagi, namun kamunya malah masih tetap keasikan tidur."

"Uhhh~ tetep aja itu ngeselin. Aku jadi ngerasa bener-bener bodoh tau gak!"

"Maaf deh yayang Lalan! Kalo gitu sebagai permintaan maaf kamu boleh minta apa aja ama aku!"

"Serius?"

"Serius!"

"Umm~" Erlan mikir..

"Kalo gitu aku minta kiss darimu selama kamu masih dirawat di sini!"

"Nanti ya!"

Sorenya.

"Erlan mau kiss kan?"

"Sekarang nih?"

"Iya. Tutup mata dulu!"

"Dah!"

Erlan mulai deg-degan.

"Buka kedua tangannya"

"Eh? Maksudnya begini?"

Erlan membuka kedua tangannya dengan gaya seperti ingin memeluk.

"Eh.. Bukan. Bukan begitu. Begini nih maksudnya. Biasa aja tangannya!"

Anna mengedepankan kedua tangannya.

"Putar tangannya seperti ini. Tangannya jangan digenggam, dibuka, jari-jari tangannya dibuka! Sip."

"Kamu mau ngapain sih? Kiss doang ribet banget."

Erlan bete menunggu.

"Iya, udah-udah. Dah siap!"

Erlan senang mendengarnya, dan mulai mencondongkan bibirnya.

"Nih.. Kiss! Aku kasih kiss yang banyak!"

"Ehh!?! Apa maksudnya ini?"

"Katanya mau kiss? Tuh Aan kasih permen kiss yang banyak. :P"

"Maksudku kan kiss ciuman yang beneran ayang Aan!"

Erlan ngarep.

"Eit. Tungguh ampe aku keluar rumah sakit dan kamu nikahin aku! Kalo dah sah, aku janji deh kamu bakal dapet lebih dari kiss sepuasnya kapanpun kita berdua mau. Tee hee~"

◊ ◊ ◊

Anna dan Erlan pun akhirnya menikah dan baru mau memulai malam pertama mereka.

Dari dunia spirit Shinigami Myo menyaksikan mereka berdua yang tengah bersiap-siap mengambil ancang-ancang.

Radah iseng, Shinigami Myo menganggu malam pertama tersebut. Alhasil seorang pria yang sudah ditakdirkan untuk mati dalam kecelakan pesawat Helikopter. Tiba-tiba Pilot Helikopter tersebut mengalami sebuah kendala penerbangan, entah mengapa bahan bakar helikopter tersebut sedikit demi sedikit dengan pasti berkurang secara perlahan. Sampai pada sebuah ketinggian tertentu, Helikopter tersebut pun terjatuh. Dan menimpah bagian belakang sebelah kiri rumah kediaman Keluarga Erlan – Anna. Untunglah helikopter itu tidak meledak, meski mendarat di tempat yang salah dan menghancurkan sebagian besar bagian belakang rumah Erlan dan Anna.

Erlan dan Anna yang baru mau mulai berciuman, mendadak terkejut karena jatuhnya sebuah benda asing di kediaman rumah mereka.

*Dbruarrr*

Menyadari hal tersebut,

"SHINIGAMIIIIIIII MYOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!"

Anna berteriak histeris!!! Erlan menatap istrinya kaget.

"Eehh~~h!?!"

.

.

.

The End (?)

The Hate - Akashi Seijuro x Scarlet Elani



A KUROKO NO BASUKE FANFICTION
The Hate - Akashi Seijuro x Scarlet Elani
By : Prasetyo Peuru Henry Putra
Disclaimer by : Fujimaki Tadatoshi
Rated : T+
Genre : Action, Drama, Thriller, Crime, Mystery
Chara :
- Akashi Seijuurou
- Scarlet Elani (Nama Akun Fb temen yang merequest cerita ini)
- Chihiro Mayuzumi
- Etc.
Warning :
- OOC
- OOT, etc
- Untuk bagian pertama The Hate, cerita misterinya tidak begitu kental. Akan tetapi genre tersebut akan lebih kental ketika masuk ke bagian ke dua, yaitu The Hate Re.

Bagian pertama ini, The Hate.  Mengisahkan tentang perasaan dendam sang MC (Main Character), Scarlet terhadap Akashi seorang agen yang membunuh Ayah angkatnya untuk menjalankan misi. Scarlet pun menjadi pembunuh profesional.

The Hate

Hari itu.. saat dimana sang agen khusus terbaik Akashi Seijuro membunuh target utamanya, sang pembunuh Legendaris Nijimura Shuuzo. Semua terjadi di depan mata sang putri angkat tercinta, Scarlet Elani yang kala itu berusia 18 tahun. Dia menyaksikan momen terakhir tersebut dari tempat aman yang tersembunyi. Matanya terus menyucurkan air mata, dia terus menahan mulutnya untuk menahan erangan kesedihannya kala melihat kejadian tersebut. Itulah saat dimana dia bertekad untuk membalas dendam dan memulai karirnya sebagai pembunuh profesional.



Scar POV



"Hari ini misiku membunuh Direktur Seirin ya? Ah.. Aida Riko. Baiklah aku mengerti, aku pergi!" seru Scar.



Target terlihat. Target akan memulai pidatonya. Scar telah bersiap di tempatnya dengan senjata sniper miliknya.



"Yosh!! Target terkunci. Siap menembak dalam hitungan mundur.. 3.. 2.. 1.." Scar menekan pemicunya (cmiiw).



*Dorrrr*



Kepala sang Direktur tertembak peluru, sang korban mati di tempat. Dan Scar pun menghilang dari TKP.



Scarlet Elani dijuluki Angin Merah Kematian. Karena keberadaannya saat pembunuhan terjadi seperti angin yang menyejukan, tak diketahui, terasa baik-baik saja namun seketika kematian berdarah terjadi. Ada beberapa rumor juga yang menyebutkan bahwa seseorang melihat dia berambut merah yang tambah menguatkan julukan tersebut. Itulah Scar yang tak diketahui profil maupun asal-usulnya.



Akashi POV



"Agen khusus Akashi Seijuro, anda ditugaskan bersama Intel Chihiro Mayuzumi untuk menyelidiki kasus pembunuhan oleh pembunuh misterius yang dikenal sebagai Angin Merah Kematian. Apapun yang terjadi segera lumpuhkan target dan cari tahu motif tindakannya! Bila keadaan menjadi genting kalian diminta untuk menumpas target!" pintah atasan Akashi.



"Baik. Perintah siap dilaksanakan." Akashi menerima tugas.



Akashi dan Mayuzumi segera mendiskusikan tentang setiap kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Angin Merah Kematian. Satu-satunya petunjuk adalah setiap kematian pelakunya meninggalkan kertas bertuliskan kata 'Aka' yang artinya 'Merah'. Ini juga sebagai alasan mengapa dia disebut Angin 'Merah' Kematian.



"Huuh... menyelidiki seorang pembunuh yang dikenal sebagai Angin Merah Kematian sungguh menyusahkan, dia tidak memberikan sedikit celah pun di setiap aksinya. Bagaimanapun ini akan menjadi kasus yang sulit.." keluh Mayuzumi kepada Akashi.



"Kau benar, akan tetapi jejak kertas bertuliskan Aka ini sungguh menjengkelkanku ..."



"Aku tau, itu pasti karena namamu diawali dengan kata Aka bukan, ya Akashi-san?"



"Ya kau benar. Entah kenapa aku merasa kasus ini berhubungan denganku.. entahlah.. ini hanya firasatku saja ..." ucap Akashi.



Scar POV



Flashback



"Akkhhh.... agen khusus.. Akashi Seijuro. Ini.. semua.. belum berakhir.. Akkhhhhhh" Nijimura mengucapkan kata terakhirnya. Pembunuh Legendaris Nijimura Suzo berhasil ditumpas oleh agen rahasia Akashi Seijuro.



"Uhh.... huh..... huh..." terengah-engah. Akashi menghubungi seseorang.



"Komandan, aku berhasil menumpas target. Uh... uh.. Tolong segera jemput kami di -???- Terima kasih .."



Seseorang datang menghampiri Akashi, agen rahasia yang lain.



"Reo..? Nebuya..? Aku.. berhasil mengalahkannya. Tidak, kita berhasil... Misi kita sukses." Seru Akashi.



...



Scar hanya bisa menangis dan akhirnya pergi meninggalkan ayah angkatnya.



Flashback End.



"Ayah... aku akan membalaskan dendammu pada pria brengsek tersebut. Akan ku bunuh mereka semua." Dendam Scar terhadap agen khusus tersebut membarah.

Scar menyamar sebagai intel, dia menyusup dan mencari informasi tentang agen rahasia. Kini di depan matanya ada semua data diri tentang agen khusus Akashi Seijuro telah terpampang jelas. Dan orang-orang yang waktu itu bersama Akashi menumpas Nijimura dan bawahannya. Scar pun membuat rencana dengan menghabisi rekannya terlebih dahulu. Pertama adalah Reo Mibuchi.

Reo sedang dalam misi khusus menjaga Perdana Menteri Jepang yang akan pidato di Korea Selatan. Reo berdiri di samping Perdana Menteri. Scar bersiap dengan snipernya.

*Dorrr*

Reo Mibuchi tewas di tempat. Scar meninggalkan sepucuk kertas bertuliskan Aka. Keadaan di sana begitu ricuh. Petugas keamanan pun mengevakuasi kejadian. Perdana Menteri Jepang selamat, karena yang diincar bukanlah dirinya.

Akashi dan Mayuzumi berangkat menuju Seoul, Korea Selatan setelah mendengar tentang informasi sepucuk kertas bertuliskan Aka. Saat tiba di sana mereka terkejut dengan sebuah pernyataan dibalik sepucuk kertas tersebut yang bertuliskan 'ini adalah permulaan dari pembalasan dendam'. Mengetahui hal tersebut Akashi Seijuro segera teringat akan kejadian misi penumpasan Nijimura Suzo.

"Mayuzumi-san? Apa kau mengetahui tentang pembunuh Legendaris bernama Nijimura Suzo? Beritahukan padaku info tentang keluarganya ataupun orang terdekatnya!" Akashi mencurigai sesuatu, firasatnya tidak enak.

Mayuzumi pun mencari tahu tentang informasi keluarga dan orang terdekat Nijimura. Dan menemukan fakta tentang seorang anak dari Nijimura Suzo yang merupakan anak angkatnya sejak berusia 3 tahun, namanya adalah Scarlet Elani.

"Mungkin dugaanku tidak berdasar, akan tetapi aku mempunyai firasat kuat bahwa pembunuhan dibalik sepucuk kertas Aka oleh Angin Merah Kematian itu di dalangi oleh wanita bernama Scarlet Elani tersebut!" ungkap Akashi.

"Aku tidak begitu yakin dengan dugaanmu tersebut. Tapi sepertinya aku percaya dengan dugaanmu setelah mendengar semua cerita yang kau katakan kemarin. Bila target pembalasan dendamnya pertama adalah rekanmu Reo Mibuchi, berarti kemungkinan berikutnya targetnya adalah Eikichi Nebuya atau kau Akashi Seijuro!" ujar Mayuzumi.

"Kalau begitu aku harus memperingati Nebuya tentang hal ini terlebih dahulu. Aku akan menelponnya dahulu.." ucap Akashi.

"Sial.. tak bisa dihubungi. Bagaimana ini? Kita harus segera kembali ke Jepang." Akashi panik.

"Ku dengar Nebuya sedang mengambil cuti selama sebulan. Dia sedang menikmati liburannya di pegunungan di daerah Hokaido" ujar Mayuzumi.

"Sial......" Akashi geram.

Di tempat lain Nebuya sedang memancing di pinggir sungai. Dan Scar sudah berada di tempat yang pas untuk menembak Nebuya dengan tembakan jitunya sebagai seorang sniper. ....

*Dorrrr!!!*

Agen khusus Eikichi Nebuya pun tewas di tempat. Seperti biasa Scar meninggalkan sepucuk kertas bertuliskan Aka. Kali ini tepat di atas mayatnya Nebuya. Dibalik kertas tersebut tertulis, 'sedikit lagi dan kalian semua akan ku lenyapkan'.

Skip

Akashi tiba di Jepang dan menerima kabar kematian sahabatnya Nebuya. Akashi mengerang sejadi-jadinya dan bersumpah untuk menghabisi Scarlet Elani atau yang dikenal sebagai Angin Merah Kematian.

Akashi dan Mayuzumi pun melaporkan semua hasil investigasinya kepada sang atasan Kotaro Hayama :v.

Scar sadar setelah semua yang diperbuatnya ini dia sudah tak memiliki jalan untuk kembali lagi. Dan satu-satunya hukuman yang pantas untuknya adalah hukuman mati, namun untuk membalas dendam kematian ayahnya dia bertekad untuk takkan berhenti sampai semua dendamnya terbalaskan.

Scar kembali menyamar sebagai intel, dia mengecek keberadaan Akashi. Kemudian mengecek dalang pembuat misi dibalik kematian ayahnya, dan setelah mengecek semuanya dia mengetahui bahwa dalang dari misi yang menyebabkan kematian ayahnya adalah Mayor Kotaro Hayama.

Scar keluar dari tempat sumber informasinya, kemudian dia bertemu dengan agen khusus Akashi. Dalam hatinya dia ingin segera membunuh Akashi, namun entah kenapa dia mengurungkan niatnya dan ingin menjadikan Akashi sebagai yang terakhir. Selanjutnya adalah Mayor Kotaro Hayama. Scar menyamar sebagai intel Momoi Satsuki. Kemudian dia memasukkan racun mematikan ke dalam kopi yang akan diberikan kepada Mayor Kotaro Hayama.

Di sisi lain Akashi membuat rencana bersama Mayuzumi untuk bekerja secara terpisah. Akashi kembali menuju ke villa penginapan Nebuya sendirian, sedang Mayuzumi berjaga di belakang untuk melihat situasi. Tapi tampaknya belum ada tanda-tanda penyerangan, namun mereka tetap waspada dengan keberadaan Angin Merah Kematian. Sejauh ini menurut mereka, Scarlet atau Angin Merah Kematian akan menyerang menggunakan senjata sniper, walaupun dalam beberapa kejadian dulu, dia menyerang menggunakan pisau dan pistol. Itu artinya Angin Merah Kematian bisa menyerang dengan keadaan jarak dekat.

Di markas pusat, Scar menyamar sebagai pelayan pembawa minuman. Mayor Hayama menenggak minumannya dan ..?!

"Arrrkkhh apa ini? Arrkhh...." ucap mayor Hayama sambil menggenggam erat lehernya.

Scar yang berada dibalik pintu, kembali ke dalam dan menghunuskan pisaunya ke jantung Hayama untuk meninggalkan kesan kematian berdarah yang selalu ditinggalkannya. Kemudian seperti biasanya dia pun meninggalkan sepucuk kertas bertuliskan Aka.

Akashi dan Mayuzumi menerima panggilan lewat telepon satelit. Mayor Kotaro Hayama dikatakan telah tewas dibunuh oleh pembunuh misterius yang disebut sebagai Angin Merah Kematian. Mereka berdua segera kembali ke Markas Pusat.

"Sial!! Aku tak menyangka Mayor Hayama pun telah menjadi target." Akashi Seijuro tidak bisa menyembunyikan kekesalan dan amarahnya.

"Tenanglah Akashi-san. Setidaknya setelah kau membaca pesan dari Angin Merah Kematian ini." ucap Mayuzumi.

"Selanjutnya akan menjadi yang terakhir. Bersiaplah akan kematianmu!" baca Akashi.

"Brengsek!!! Sepertinya dia sudah mengetahui segala informasi tentang kita!" geram Akashi.

"Tampaknya dia juga ahli dalam menyamar, petugas sudah mengecek video rekaman kejadian pembunuhan tersebut. Namun identitasnya tak dapat diketahui!" ujar Mayuzumi.

"Sial!!!" Akashi tidak bisa menerima semua ini.

"Kita harus bisa menyelesaikan misi kita bagaimanapun caranya. Ditambah target terakhirnya sepertinya adalah kau Akashi-san. Kita akan meminta tim khusus untuk menjagamu!" ungkap Mayuzumi.

"Tidak. Itu tidak perlu. Ini adalah masalahku dengan wanita tersebut. Aku akan mengakhirinya sampai di sini. Mayuzumi-san maafkan aku. Tapi sebaiknya kerjasama kita berakhir sampai di sini saja. Aku tak bisa melibatkanmu lebih jauh dalam masalah ini!" tegas Akashi.

"Tidak Akashi-san aku ikut denganmu. Ingat ini adalah misi kita berdua yang diberikan Mayor Hayama kepada kita berdua. Aku takkan membiarkanmu begitu saja." Mayuzumi menegaskan pendapatnya.

"Akan tetapi Mayor Hayama sudah tidak ada lagi. Ini semua sudah lebih dari cukup. Aku akan menyelesaikannya sendiri bagaimanapun caranya. Jangan ikut campur dalam masalahku!" ucap Akashi.

"Tapi Akashi-san?"

"Aku pergi..." Akashi pergi meninggalkan Mayuzumi dan mencoba mencari Scarlet sendiri meskipun tidak ada petunjuk lagi sama sekali. Yang dipikirkan Akashi adalah membuat Scarlet atau Angin Merah Kematian melakukan pertarungan jarak dekat. Dan Akashi telah siap untuk rencana tersebut dengan berjaga-jaga di sebuah gedung tua bekas markas pelatihan militer yang sudah tidak dipakai lagi.

Dan tampaknya Scarlet Elani memenuhi tantangannya untuk aduh duel 1 lawan 1. Inilah hari yang dinantikan Scar sang Angin Merah Kematian untuk membunuh orang yang telah membunuh ayahnya di depan kedua matanya.

"Jadi kau bernyali juga untuk menantangku satu lawan satu! Ku pikir kau akan membunuhku dengan senjata snipermu seperti yang telah kau lakukan terhadap ke-dua rekanku sebelumnya." Ucap Akashi.

"Tidak. Ini adalah impianku sejak lama yaitu menghabisimu dengan ke-dua tanganku sendiri dan dengan pisau ini, seperti yang telah kau lakukan dulu terhadap ayahku Nijimura Suzo!" terang Scar.

"Jadi benar kau atau yang biasa disebut Angin Merah Kematian adalah Scarlet Elani, anak angkat dari pembunuh legendaris Nijimura Suzo!"

"Jadi kau sudah tau namaku ya?! Hebat juga agen khusus terbaik Akashi Seijuro! Aku jadi tidak perlu susah-susah memperkenalkan diriku lagi."

"Begitukah? Kalau begitu ayo. Sekarang kita mulai pertempuran balas dendam kita! Akan ku habisi kau seperti layaknya aku menghabisi ayahmu dulu! Kalian para pembunuh, pantas untuk mati!!" Akashi memulai pertempuran dan berlari ke arah Scarlet dengan pisaunya, bersiap menghabisi Scarlet.

"Brengsek! Akan ku bunuh kau!!" Scar juga berlari ke arah Akashi dengan pisaunya.

Mereka beradu pukulan dan beberapa kali menyerang dengan pisau juga berusaha menghindari serangan yang dibuat lawan.

Scar menendang perut Akashi, Akashi terlempar ke belakang. Scar segera berusaha menghunusnya dengan pisau namun Akashi menghindar dengan berputar ke arah kanan. Pisau mereka beraduh, Akashi berusaha meninju Scar, namun Scar mengelak ke kiri. Pertempuran semakin sengit. Scar terkena sayatan di lengannya, sedang Akashi terkena sayatan di dadanya. Kemudian Pisau Akashi terlempar oleh hantaman Scar. Scar mencoba menusuk mata Akashi dengan pisau, Akashi menahannya dengan kuat. ... Kemudian Akashi menendang perut Scar dengan sikut kakinya. Akashi membalikan keadaan dengan berputar di atas badan Scar. Kini posisinya Scar berada di bawah dan Akashi di atas. Pisaunya berusaha ditusukkan ke leher Scar. Scar menahan sekuat tenaga, kemudian berinisiatif mengambil pistol yang disimpannya dicelananya. Scar menahan dengan satu tangan sekuat tenaga, namun pisau tersebut begitu sulit bila hanya ditahan dengan satu tangan. Pisaunya menyentuh leher Scar dan membuatnya berdarah. Scar segera mengambil pistol dan menembakkannya ke perut Akashi. *Dorrr!!* *Dorrr!!* *Dorrr!!!* Akashi melihat perutnya bersimbah darah. Inilah akhirnya... Scar berhasil membunuh Akashi. Dia pun mendorong Akashi ke arah samping sebelah kanan. Saat Scar berdiri dan bersiap untuk pergi. *Dorr!!* *Dorrr!!* *Dorrr!!!* *Dorrrr!!!!!*

"Ayah... Inilah akhirnya. Tak masalah.. tak masalah jika aku mati di sini! Yang penting aku sudah berhasil membalaskan dendam ayahku! Aku akan segera menyusulmu ayah...!!" Scarlet Elani mengucapkan kata tersebut dalam hatinya, matanya nampak menyucurkan air mata namun bibir mungilnya menyiratkan senyuman kebahagiaan. Akan semua beban yang dia emban selama ini. Dan semuanya telah berakhir.

Orang yang menembak Scar sang Angin Merah Kematian itu adalah Mayuzumi, Chihiro Mayuzumi. Inilah akhirnya kisah tentang pembalasan dendam dan jalan yang ditempuh antara petugas keamanan negara dan pembunuh misterius yang hebat dalam menjalankan aksinya.

Chihiro Mayuzumi adalah nama palsu sang intel, nama aslinya adalah Daisuke Furusawa(nama akun fb author kala membuat ff ini) :v *peace*.



The End

Quotes Holy Bible

Matius 6:33 -- "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." -- Lembaga Alkitab Indonesia (TB) Terjemahan Baru.

Youtube

Kakakku :) Punyanya Kak Nandus

Kakakku :) Punyanya Kak Nandus

Pria dalamTuhan YME

Pria dalamTuhan YME
My Fam