Total Pageviews

Followers

Instagram

Saturday, September 5, 2015

Tulisan Tak Berjudul

Berjalan dalam dimensi ruang dan waktu
Setelah pikiran ini kembali terbebas dari ikatan pikiran yang membelenggu, sekali lagi si pemikir itu mampu box out dari hal yang sebenarnya telah lama dihapusnya dulu.
Entah itu dari sebagian luar dirinya, dalam kebimbangan kala itu.
Maupun dalam diri yang meski terus mengasah pikirannya setajam mungkin, tampaknya si pemikir ini melupakan esensi dasar lain yang sebenarnya tak kala penting dan harus diutamakan melebihi strong mind yang dianggapnya lebih dan merupakan kekuatan untuk memecahkan segala permasalahan puzzle kehidupan.
Berbicara hidup adalah sesuatu yang sia-sia. Bahkan seorang paling berhikmat sepanjang masa. Seorang pria yang takkan mungkin tertandingi sampai kapanpun akan kesejahteraan-Nya, Salamo; dipendekatan akhir hidupnya, mengungkapkan bahwa Hidup itu sia-sia. Toh semua orang pada akhirnya akan mati saja.
Hal ini sudah jauh lama ku renungkan saat aku masih kelas 1 SMA dulu, tahun 2009 di salah sekolah Negeri di daerah Indonesia.
Terkait dengan hal itu bahkan dulu aku sempat berpikir bahwa sudah tak ada gunanya aku hidup. Bukankah jika lebih baik untuk kembali ke sang Khalik?
Meski begitu aku masih tetap tau untuk takkan pernah mengakhiri hidupku seperti seluruh orang bodoh yang bunuh diri.
Aku tau bertindak seperti itu hanya akan membuaku malah berakhir ke tempat yang jauh lebih mengerikan dari dunia suck ini.
Terlepas dari itu semua, meski dua hal dalam penting dalam hidup ini, telah ku raih hal pertamanya di usiaku yang terlampau muda, di masa akhir SMPku, tapi toh ternyata aku tak bisa benar-benar menjaganya karena belum memahami sepenuhnya esensi yang satunya lagi, bila ku pikir sekarang.
Dan bahkan bila aku menyadari hal itu, ya sepertinya aku memang menyadarinya, akan tetapi aku tak sepenuh-Nya memberikan kekuatan penuh untuk memboost hal yang sebenarnya jauh lebih berarti dibandingkan esensi kebenaran dan kekuatan pikiran yang telah mencapai tahap terbebaskan dan terasah dalam hal kebijaksanaan hakiki.
Ya, aku mengabaikan hati? Tidak itu sepenuhnya tak benar. Saat itu meski perasaan bimbingan ketika diperhadapkan oleh pilihan yang cukup rumit dan bahkan belum sepenuhnya memilih dengan yakin dan mantap, aku sudah terbawa.
Dan gejolak dalam diri itu, sang hati terus mengusikku berbicara bahwa ada yang tidak beres di sini! Hei... Tyo kau harus segera kembali. Tempat ini takkan membuatmu berkembang. Situasi yang kualami juga sungguh menyulitkanku dan benar-benar memberikan efek shock terapy yang sukses mengguncang pertahanan jiwaku, yang selalu ku jaga dalam sifat diamku yang coba menyelidik sekitarku.
Dulu aku adalah orang lebih suka memperhatikan dibanding, mengabaikan dan terus menonjolkan diri terlepas dari hoby yang membuatku merasa jauh lebih bahagia dan puas.
Ya, sampaat ini aku memang tetap menjadi pemerhati sekitar dalam duniaku yang tak lagi sama, tak perlu ku jelaskan.
Mengingat tentang celah yang telah tercipta dalam itu yang akhirnya terus-menerus mengalami serangan, entah secara sadar maupun tak sadar. Dalam doa di kamar kosku dulupun, aku merasa doaku seperti hanya mentok sampai di atap ruangan tempat meregangkan badanku dari segala kepenatan dunia yang kacau balau.
Padahal sebelum mulai terbelenggu dalam situasi ini, beberapa waktu sebelumnya aku dengan segala rasa luar biasa dalam diri ketika melalui suatu masa pencapaian diri yang naik satu tingkat ke level berikutnya, level yang kasat mata. Aku dalam keteguhan hatiku berucap;
"Tuhan berikaan aku ujian-Mu yang jauh lebih berat lagi ke dalam hidupku agar bisa lebih teguh lagi. Agar aku makin dewasa lagi dalam bertindak. Agar aku bisa lebih mendekatkan diri pada-Mu. (dan bla bla bla semacamnya) ..." kurang lebih begitu ku berbicara pada-Nya, layaknya seorang rekan berbicara atau-mau-pun seorang prajurit kepada sang komandan untuk sesi latihan yang jauh lebih berat lagi untuk mempush dirinya sedemikian rupa lebih hebat lagi dan tentunya untuk lebih dekat dan membanggakan sang lawan bicara kita itu, si Maha Sempurna, Tuhan Yang Maha Esa.
Seusai berucap, akupun menjalani aktifitas harianku dan masih belum menyadari bahwa ujian besar sudah akan menantiku di masa yang tak akan lama lagi.
Dan benar, bahkan tanpa menyadari ujian tersebut telah dimulai, ataupun meski sudah mawas diri, sebijak apapun aku di masa muda, aku hanyalah seorang remaja yang mulai memasuki dunia baru masa ABG. Bagaikan kiasan kuncup bunga ... ah tidak kiasan itu takkan tepat untuk situasiku.
Bagaimanapun kesuksesanku masuk di kedua sekolah utama SMA di dua daerah berbeda, dimana sekolah tersebut sama-sama SMANSA, namun berbeda daerah, yang satu Kota dan yang satu daerah dekat tempat tinggalku - bersama kedua Oma dan Opaku yang akrab ku panggil dengan sebutan Oma Mami dan Opa Papi, karena merekalah yang paling lama membesarkanku selama aku SD. Dan di kedua sekolah itupun aku berhasil masuk. Ya masuk sepuluh besar dua-duanya. Kalo yang di daerah aku bisa melihat aku di posisi berapa saat itu, hanya aku sudah lupa. Sedang yang di kota, saat aku sedang ingin mencari aku posisi berapa, si Kakakku bersama mantannya yang (...), menyapaku dan berkata tak perlu melihat aku lolos masuk atau gimana, karena toh aku katanya masuk sepuluh besar. Dia tak menjelaskan posisi berapa dan hanya berkata sepuluh besar intinya. jadi ku pikir berarti antara posisi lima sampai sepuluh mungkin. Waktu itu aku tak begitu peduli, entah kenapa itu terasa biasa bagiku seperti tahun-tahun sebelumnya bersekolah. Walau memang aku senang, namun aku begitu optimis karena dibanding tahun-tahun sebelumnya, dimana aku tak begitu belajar sungguh-sungguh di rumah dan jauh lebih banyak bermain, tapi toh aku masih bagian dari yang terpintar di seluruh angkatanku. Sungguh suatu raiju dalam istilah yang pernah ku dengar dari bahasa Jepang. Dan terlepas dari itu semua, sekali lagi, alasanku optimis karena itu pertama kalinya aku serius belajar karena ingin membuktikan bahwa tanpa guru sekalipun dengan mengandalkan buku yang sudah lengkap dan belajar serius dengan kemampuanku sendiri, aku bisa membuktikan bahwa aku takkan kalah dalam perangku untuk membuktikan bahwa penilaiannya salah. Serta kekecewaanku padanya disaat sikapnya berubah sejak tindakanku yang mengkritik kesalahannya dalam menilai dan ternyata cara yang gunakan dan hasilnyalah yang benar, guruku melakukan kesalahan dalam penilaian suatu pelajaran yang menjadi keahliannya. Teman-temanku sampai bersorak bahwa aku lebih pintar guru kami itu, tapi bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mendapatkan nilai yang sesuai, karena aku tak salah ketika itu.
Sejak menerima kritikan itu, sikapnya padaku yang sebelumnya baik dan perhatian mulai berubah. Aku benar-benar menyadarinya dan mulai merasa tak senang dalam situasi seperti ini. Akhirnya aku melakukan demo yang tak disadari orang lain, semuanya. Demo dalam artian aku mulai mengacuhkan setiap tugas yang diberikannya. Sungguh saat itu aku benar-benar kecewa terhadapnya, namun tak bisa mengungkapkannya. Sayangnya disekolahku saat itu tak ada guru BP-nya sepertinya, hanya ada guru Agama Kristen. Tapi aku yakin, memperbincangkan padanya bukanlah pilihan yang tepat. Terlepas dari itu semua dan guruku yang ku demo dengan caraku sendiri itu, mulai heran dengan nilai-nilaiku yang kelihatannya menurun. Meski kali itu memang disengaja. Dan yang tambah membuatku sebel adalah aku bisa mendengar percakapannya dengan seorang guru saat itu, bahwa semua itu mungkin akibat pergaulan di sekitar rumahku, dimana aku mulai terjerumus dengan pergaulan di sana. Aku hanya bisa tertawa mendengar hal itu, asumsi yang benar-benar bodoh tanpa pembuktian, hanya mengira-ngira seperti itu membuatku benar-benar risih. Tak ada salahnya mengira-ngira begitu, tapi kenapa seperti sengaja memperdengarkan hal tersebut ke kedua telingaku?
Akhirnya dari situlah aku memulai pertempuranku juga.
Mengoreksi pernyataan asumsi mereka sebelumnya, mereka salah. karena kegiatanku saat masih termasuk baru pindah kembali ke daerah asal masa kecilku saat itu adalah lebih banyak di dalam rumah. Alasannya sendiri karena saat itu selain mungkin tidak ada ketertarikan yang ku temui di luar, ataupun mungkin kecanggungan bergaul kembali dengan teman-teman masa kecilku, entahlah aku tak terlalu memperdulikannya. Dan aktifitas di dalam rumah saat itu lebih banyak membaca dan belajar. Saking sudah tidak ada buku lagi yang bisa ku baca, termasuk salah satu buku menarik bekas buku kedokteran Papa dulu, dimana judul buku itu adalah tentang Psichoteraphy (cmiiw), termasuk sejarah dari seorang penggagasnya beserta kesulitannya dengan melakukan eksperimennya tentang Psikoterapi itu sendiri. Sayangnya itu satu-satunya buku kedokteran yang ada dirumahku saat itu, buku-buku lainnya telah diberikan ke rekannya saat Papaku memutuskan untuk berhenti kuliah kedokteran karena alasan sifat petualangnya. Yang ku ingat dan apa yang kudengar kalau tidak salah, Papaku suka balapan motor. Dan itu penyebab utamanya berhenti kulah kedokteran kalo tidak salah. Sungguh boros dan menyia-nyiakan hidup, pikirku. Ya itu bisa dia lalukan karena Papa memang anak pejabat di daerahnya. Sedang karena egonya kini aku hanyalah anak dari seorang yang berprinsip keras memperjuangkan kebenaran dan menolong masyarakat. Meski masyarakatnya sendiripun tak menyadari perjuangan yang telah dia berikan. Mau menjadi Pahlawan huh? mm.. Sebenarnya aku bangga dan sangat mengidolakannya dibanding siapapun di dunia ini saat ini. Bahkan menulis mengidolakannya membuat mataku berkaca-kaca saat ini. Tjih. Percuma, tapi karena prinsipnya yang kuat/tak tergoyahkan oleh siapapun, karena idealismenya itu. Aku jadi mengalami situasi yang berat dalam hidupku. Padahal sebelumnya saat dia membawa kami ke Jakarta pertama kali dan menjelaskan maksud tujuannya sebelumnya, adalah ... Papaku ingin merajut kembali hubungan orangtua dan anak yang sudah lama tak terjalin dengan baik di antara kami. Ya, benar. Memang disaat aku ngambek kepada Oma dan Opaku, aku selalu mengungkit mereka, terutama Papa. Huff... D*mn mata gue.. Huuu~
Mendengar hal itu dan saat ini, sosok itu pergi lagi. Kebersamaan apanya? Cih.
Padahal dulu saat aku mendapatkan telepaty, merasakan ketidaknyamanan di dalam hatiku sejak pagi. Aku menjelaskan ke Papa bahwa dia dalam situasi yang unsecure, dimana saat itu Papa ada di Ujung Pandang untuk sebuah proyek dengan rekan kerjanya melalui proposal yang dia buat untuk mencukupi kebutuhan kehidupan keluarga kami sendiri tentunya yang ngontrak di Jakarta. Meski punya berhektar tanah hasil jerih payahnya sendiri (bukan dari hasil warisan), yang merupakan hasil kerja kerasnya mendirikan Tabloidnya sendiri dengan cara yang jujur dan tak terima sogokan, Tabloid Jejak di suatu daerah yang berisi berita tentang politik utamanya, bahkan dulu waktu masih berusia 5-6 tahunan seingatku seluruh isi korannya tentang Politik. Uck sama sekali gak menarik di mataku saat itu. Jadi bahkan sampai saat ini aku bahkan hanya sedikit membaca tulisan Papaku sendiri, meski dulu aku berusaha keras memintanya untuk mengajarinya apapun yang dia tau dan bisa ajarkan padaku. Utamanya dulu aku mendesaknya mengajariku cara membuat proposal, bagaimana  cara menginvestigasi mengumpulkan data-data rahasia negara dan sebagainya. Tapi nihil. Saat meminta cara membuat proposal, dia hanya memberikan kumpulan proposal yang pernah dia buat dan sudah tak terpakai, namun hanya menjadi referensi saja. Memusingkan aku sama sekali tak megnerti bagaimana penghitungan uangnya. Kenapa perhitungan tidak sesuai dengan apa yang ku hitung? Bagaimana sebenarnya maksud dari angka-angka ini? Sungguh tanpa hint aku kesulitan sampai akhirnya akupun menyerah. Menyebalkan. Buang-bunag waktu untuk sesuatu yang sia-sia. Payah. Orang lain di didik/di ajarkan sampai sudah sukses sekarang dan akhirnya malah mengkhianatinya demi uang dan jabatan di Pemerintah. Serakah! Meski aku juga suka uang dan dulu selalu berpikir bagaimana bisa menghasilkan uang dengan segala bakat yang ku miliki, mengkombine-nya sedemikian rupa sehingga jauh lebih unik dan memberikan kisaran harga berapa yang mungkin bisa ku dapatkan dari hal tersebut dan segala imajinasi khayalku tentang keuntungannya. Matre. Damn. Gue butuh duit buat nyalurin segala bakat gue. Menutupi segala kekurangan gue dengan learning, learning and learning. Jika gue punya uang sendiri untuk kursus sebanyak mungkin di hal-hal yang membuat gue tertarik.
Papa tau kalo keinginanku untuk bisa sempurna sangat tinggi. Makanya karena kebodohan itulah aku menyesali diriku sendiri yang hanya membuatnya terus berjuang untuk menghasilkan uang dengan cara yang benar. Kenapa tak jual beberapa tanah atau gimana? Karena dulu itu untuk modal kami kuliah nanti dan segala tetek bengeknya. Bahkan Opaku sudah menghitung dalam beberapa waktu kedepan Opa bisa membeli mobil dari hasil perkebunannya dan disaat kuliah nanti aku bisa menggunakannya. Mengingatnya hanya membuatku berpikir bahwa itu adalah yang benar-benar bodoh.
Sekarang aku jadi menyadari sifatku yang suka berangan-angan tinggi sepertinya tertular dari Opaku ini. Seandainya aku lebih lama dengan Papa, aku pasti bisa lebih realistis, berani, kuat, dan lebih lagi. Mengingat bahkan Mama yang dulunya pemalu, jantung lemah(dulunya. titik.), dan nyaris tak bisa apa-apa. Hanya memang pintar, cantik dan menawan (mungkin -_-) sampai dulunya sempat jadi kembang desa. Dan menamatkan pendidikan di sekolah Pendidikan Guru untuk menjadi guru. Hmm. Bodohnya Papa malah melarang Mama bekerja. Alasan yang kutahu karena pengalaman Papa yang dimana dulunya jarang bertemu dengan orangtuanya, dimana Opa Palu sibuk dengan pekerjaannya


@$^@&%*$^%%*&%*(&%(*&$&&%$(&%&*%&*&^(
B***KE gue udah nulis panjang-panjang. koneksi ternyata udah putus. Dan browsernya menjadi
C**********ppppppp &*%*&%(^%)**^*&))%*$&^$(%(&E$*(%^&$%(&%*$*%*&^

Udah susah-susah dan gue udah bosen buat ngulang lagi seperti kebiasaan gue biasanya. Alasannya tulisannya dah panjang bangettttttttttttttttttttttttttttt >.<"
Mana mungkin alurnya bisa sama lagi dan sedemikian rupa. Akkkkkkkkkkkkkkh T_____________T
Tau gini make browser firefox aja tadi, seandainya firefox gak suka crash kalo kebanyakan buka tab. Padahal tadi cuman buka blogger doang, harusnya gue make firefox aja. Make Maelstorm sama aja kaya Chrome kejfdjsklclkfjasjasl. Gue pikir walaupun Err. lagi masih tetep bisa kesimpen kaya pengalaman sebelumnya. ternyata koneksinya dah mati. %*^(*&($$&*&)*)*.
Huuuuuuua.. Fuhhh~
Ah sudahlah. post begini aja, nanti kuterusin lagi meski bakal beda nanti.
Sempet bikin krasa frustasi tadi. Tapi sekali lagi yaudahlah.
 Huuh masih kecewa ternyata karena tulisannya ilang jadinya, tapi ini keselahan gue. Udah tau suka gini, bukannya tulis di wordpad aja dulu biar simpel. baru pas selesai nulis di posting. Malah keasikan nulis di Blogger, di browser. Kan jadi lagi bencananya. Apa semua Chrome gini? Bahkan Browser sejenis Chrome juga suka gini. Bahkan walau internet tetep nyala emang suka gini kalo lama ditinggal/dibiarin apa gimana. Padahal kan gue sementara ngetik. Kok suka tiba-tiba mati gini sih? Cuman kelamaan nulis doang juga. Jadi harus diklik gitu dulu biar lama? Apa emang ini termasuk bug-nya chrome? Hadehhh.... Gak responsif terhadap ketikan apa gimana? H~hh...
Browser apa yang bagus ya? Selain Firefox ama Chrome? Safari bisa dipake di Windows gak ya? Udahlah sampe di sini aja dulu.


No comments:

Post a Comment

Be careful to comment!

Daily Quotes of Holy Bible

Daily Quotes of Holy Bible