Total Pageviews

Followers

Instagram

Sunday, September 6, 2015

Ini Pas Kapan Ya (Judul Sementara - Asal Post Ntar Diedit(Terserah Kapan)

Tanpa gue sadari, ternyata banyak memori berharga semasa kecil gue yang hilang. Lebih tepatnya gue lebih terpaku dengan masalah yang gue hadapi, sakit hati, trauma, kecewa, amarah, keputus-asaan, kesepian, rasa malu dan penyesalan. Mencoba gak mengakui hal tersebut, gue meyakini diri sendiri bahwa gue gak punya masalah apa-apa. Gue berusaha menjalani hari-hari gue dengan biasa dan sebaik mungkin. Ya gue bersikap seolah tanpa beban. Berwajah palsu, poker face. Gue meyakini diri gue sendiri bahwa gue fine-fine aja, meskipun dilihat dari segi manapun orang lain yang jelas tau dan melihat keberadaan yang dihadapi tentu akan berkata bahwa gue menghadapi masalah yang besar, berat dan rumit. Ya itu benar.
Meski mencoba tegar dan mengalihkannya dengan banyak hal lainnya, mencoba diterima dalam lingkup sosial tanpa sepenuhnya menjadi diri gue yang asli. Ya, sifat dan karakteristik yang menghilang dari pribadi gue. Akan ku jelaskan di akhir. Masalah membuat gue menyimpan sifat asli gue, sifat sejati yang seharusnya tak boleh terkubur dari dalam pribadi gue.
Gue adalah seorang pemikir. (Ini bukan hal yang gue maksudkan sebelumnya tentang sifat sejati gue yang hilang) --Banyak orang dewasa yang mengatakan dan menyatakan hal tersebut, mereka mengakuinya. Orang pertama yang menyatakan hal itu sendiri adalah Papa gue. Hal itu sudah lama jauh gue dengar sebelum orang lain menilai gue seperti itu lagi. Papa gue sangat tau dan kenal betul dengan sifat gue. Bukan hanya karena dia adalah Papa gue, dia sendiri hanya memiliki waktu kebersamaan dengan gue yang gak begitu lama namun dia memang hebat. Karena Mama gue sendiri gak mengenal diri gue dengan baik, dia mungkin tau sifat dan keadaan yang gue alami. Namun dia gak mengerti bagaimana mengekspresikan dirinya secara tepat kepada gue. Kalau jujur gue katakan, lebay.Gue benci mengungkapkannya, gue sendiri juga sebenarnya tak membencinya. Tentu gue menyayanginya karena dia adalah Mama gue, Orangtua gue, seorang yang telah melahirkan gue bagaimanapun. Hanya sikapnya itu seringnya terlalu menjengkelkan, sehingga akhirnya gue lebih memilih untuk cepat-cepat menghindarinya. Gue ingin Mama gue bisa bersikap biasa selayaknya bagaimana dia bisa berbincang dengan santai terhadap orang lain. Apakah gue sebegitunya membuatnya khawatir? Sehingga dia memperlakukan gue seakan anak kecil. Gue jujur tak senang saat dia bersikap caper. Gue sebenarnya senang juga bila bisa mengobrol secara santai tentang banyak hal dengan Mama gue. Namun yang ia lakukan malah bertingkah seperti seorang yang ingin mendapatkan perhatian khusus dari anak-anaknya yang tampak mengacuhkannya disaat tertentu. Banyak hal yang gak gue suka dari nyokap gue. Cara pendekatan Mama dan Papa gue benar-benar berbeda. Papa gue bisa membangun sebuah komunikasi dengan mudah terhadap kami ketiga anaknya, komunikasi yang dibuat papa sangat menyenangkan dan berbobot. Mama sebenarnya pintar, dia juga dulu harusnya jadi guru namun gak diijinin bokap. Salah satu kesalahan bokap gue. Mama juga yang gue lihat bisa bicara secara santai dan normal dengan kakak dan adik gue. Mungkin dalam hal ini gue-lah yang salah. Waktu gue dirumah lebih banyak gue habiskan di depan semua gadget dan buku-buku gue, terkadang keluar untuk hoby main Basket gue. Disaat gue ingin berbincang dengannya untuk meminta tanggapan dan nasihatnya, Mama gue malah sedang dalam waktu hiburannya, menonton TV. Dia bukan Ibu-Ibu yang ingin mengenal FB dan asik di dunia maya. Itu salah satu nilai plusnya sebagai seorang Ibu rumah tangga dan orangtua. Baginya mengurus rumah tangga dan memperhatikan keluarga jauh lebih penting dibanding asik mencari pergaulan di dunia seperti itu. Sebenarnya Mama itu hebat karena dia sangat setia dengan Papa. Dia berjuang untuk Papa dan kami. Dia sangat baik terhadap semua orang. Mampu berkomunikasi dan disenangi dengan para tetanggaIbu-Ibu dan wanita (khususnya) dan juga dalam ruang lingkup Ibadah. Kemanapun dia pergi dia adalah orang yang ramah dan bisa membuat lawan bicaranya mengobrol seru dengannya. Saat membeli sepatu dulu, sang kasir perempuan yang diajak bicara dengannya ikut tenggelam dalam serunya obrolan perempuan. Gue sendiri yang melihat hal itu hanya bisa facepalm. Ibu gue disini benar-benar mampu memilah-milah siapa yang pantas dan bisa diajak mengobrol seperti itu dan siapa yang tidak. Tentunya mostly adalah para perempuan yang berbicara dengannya, mau dari gadis, Ibu-Ibu, sampai nenek-nenek. Pernah saat seorang bapak-bapak mengajak mengobrol kami yang sedang makan di Mall, waktu itu ada gue, kakak perempuan gue dan Mama. Kami memang menjawab obrolannya dengan baik namun kami tetap menjaga jarak dan memberikan sinyal agar dia go away. Meskipun bapak tersebut berbicara mengenai keluarganya, gue pengen ngomong, "Hey, kami di sini lagi nikmatin kumpul keluarga dan lu juga punya temen laki-laki lu di sana yang ngumpul di meja sebelah. Kalo mo obrolin soal keluarga dan kerjaan lo, mending lu obrolin aja sana sama mereka. Sok akrab banget nih om-om satu. Gak bisa liat situasi apa? Orang lagi nikmatin makan bareng keluarga. *Pengen gue katain Bapak-bapak mesum, mata keranjang, hidung belang! Hush-hush sana!* Dikiranya gak ada Bokap gua di sini, trus Nyokap ama kakak gua dianggap apaan." Dan syukurlah akhirnya bapak tersebut pergi karena kami tak begitu menanggapi keramahan 'palsunya'. Nyokap gue adalah orang yang sangat setia terhadap pasangannya. --Intinya Mama mampu membangun komunikasi yang baik dengan orang lain yang mau gue sampein, tapi gak dengan gue sekarang. Sifat rumit gue membuat dinding yang besar antara relasi gue dengan nyokap. Selain karena kesibukan gue, cara pendekatan nyokap gue untuk mengobrol dengan anaknya terasa aneh dimata gue. Mungkin gue terlalu membandingkan cara pendekatan Nyokap dan Bokap gue. Gue terlalu banyak mengkritik sikap nyokap gue. Di mata orang lain Mama gue adalah orang yang hebat, di mata gue juga sama. Namun di sisi lain ada hal-hal yang membuat gue jenkel terhadapnya. Makanya gue jujur lebih sayang Papa gue dari pada Mama gue. Ketika menonton sesuatu bersama Mama dan adik gue, kemudian kisahnya menunjukkan tentang hubungan kasih sayang Ibu dan anak, dimana anaknya nangis terhadap Mamanya karena rasa sayangnya, gue entah kenapa langsung berusaha menghindari dan memilih untuk gak menyaksikan hal tersebut dan pergi dari ruangan. Kalau hanya menonton sendiri gak jadi masalah. Gue jadi sadar kalau gue gak ngerti hal ini kenapa. Orang yang paling mengenal, mengerti, paham dan mampu menilai gue dengan baik adalah Papa gue sendiri. Orang yang paling membuat gue merasa nyaman saat bisa berdiskusi dengannya. Dia memiliki mata yang tajam untuk mengenal pribadi seseorang. Kekuatan dan ketenangan yang benar-benar intens saat mendengarkan ucapan gue. Komentar yang benar-benar tepat untuk kepribadian, hidup, langkah kedepan, bagaimana menghadapi dan menyikapi segala sesuatu, tentang pekerjaannya, dia benar-benar menguasainya dan mempunyai pemahaman yang teramat dalam. Gue ingin terus menimbah ilmu darinya, mendengarkan advicenya sekali lagi. Orang yang paling tepat untuk diajak bicara dan berdiskusi. Banyak hal yang gue kagumi darinya. Dulu gue pikir gue udah bisa sebanding dengannya, masa remaja yang terlalu naif. Masuk ke zona pemahaman tentang kebijaksanaan sempat membuat gue 'melayang' dalam bangga. Namun Papa gue berkata bahwa gue dan dia masih seperti antara Langit dan Bumi. Tak mau kalah, dengan sombong dan naifnya, gue berusaha menjelaskan segalanya apa yang gue pikirkan. Adu argumen. Namun hanya dengan beberapa kata saja, Papa gue mematahkan teori gue. Sekarang gue akui kalau perbedaan gue ama dia memang benar, antara langit dan bumi, bahkan sampai saat ini. Waktu itu gue memang tak mengakui kekalahan gue, tapi mengingat kembali hal tersebut. Gue memang masih terlalu jauh untuk bisa mengalahkannya. Untuk bisa jauh lebih baik darinya. Itu adalah janji diantara kami, sewaktu gue masih belia. Bahwa pada masanya gue akan jauh lebih baik darinya. Gue mengiyakan. Sayang, dalam 20 tahun umur gue ini, gue bahkan gak sampai memiliki setengah usia kebersaman gue dengannya. Gue pengen lebih bisa bersama dengannya, banyak hal yang ingin gue pelajari darinya. Gue ingin bisa mendengar setiap nasihat, masukan dan pendapatnya dalam setiap aktifitas gue. Gue memang senang bisa belajar secara otodidak dengan sangat baik. Namun gue lebih senang lagi bila dia memiliki banyak waktu untuk mengajari gue, tak sebatas sampai pada nasihat.
Kau tak mengajariku cara membuat proposal saat aku memintamu ketika SMP, kau hanya memberikan contoh beberapa contoh proposalmu untuk aku pelajari sendiri. Kau tak mengajariku berenang, padahal kau sangat ahli menyelam di dalam lautan tanpa menggunakan alat apapun. Sampai saat ini aku tak bisa berenang kau tau, itu menjengkelkan ketika tak bisa ahli disuatu hal yang penting dan gue sukai. Kau juga tak berusaha mengajariku atau membantuku bermain Gitar maupun Keyboard, padahal kau harusnya tau aku membutuhkannya. Aku masih menulis lirik lagu dengan nada yang aku ciptakan tanpa bisa memainkannya dengan alat musik. Itu terasa mengecewakan. Kau bahkan tak pernah mengatakan padaku sebelumnya dan mengajariku beladiri, padahal kau dulu sabuk hitam beladiri Karate. Memang semasa kecil gue tak menyukai perkelahian, kau tau itu. Tapi setidaknya ajari gue sedikit mengenai tekniknya. Aku yakin itu akan sangat membantuku pada saat ketika aku pindah ke kampung Oma dan Opaku dari pihak Mama di SD dulu. Dan ketika akhirnya gue masuk klub Taekwondo dan berlatih hal tersebut. Kau awalnya memang heran dengan perubahanku, aku sendiri juga tak tau kenapa mulai tertarik untuk belajar bela diri sejak memasuki kelas 2 SMA atau kelas 1 SMK untukku saat itu. Saat SMP dulu padahal ada ekskul Jujitsu tapi aku sama sekali tak tertarik. Saat kelas 1 SMA ada ekskul Karate aku juga masih belum tertarik. Semuanya berubah setelah aku sakit. Secara spontan aku ingin berlatih beladiri dan ketika ada ekskul beladiri di sekolah dimana hanya ada Taekwondo, akupun masuk dan bergabung. Aku bahkan sempat ikut turnamen dan bisa mengalahkan 3 lawanku yang notabene sabuknya lebih tinggi setingkat dariku, hanya kalah setelahnya karena kebodohanku sendiri. Padahal kalau aku bisa menyimpan energiku ketika jam istirahat dan bertanding serius, aku bisa mengalahkannya. Kepalaku sampai ditepuk oleh asisten Sabeum, kakak kelasku/temanku karena aku tak bertanding dengan benar. Papaku hanya berkata aku tak tampil agresif dan cenderung defensif barusan, dia melihatku kelelahan dan terlalu berhati-hati. Aku sempat kecewa karena dia hanya merekam beberapa video yang menampilkan kesalahanku dalam bertanding. Bukannya merekam semuanya terutama saat aku bisa menang dan mengalahkan lawan. Sigh. Tapi saat itu tak ada penyesalan karena aku sama sekali tak punya motivasi untuk menjadi juara, aku mengikuti turnamen tersebut hanya untuk menambah pengalaman, seperti hanya untuk senang-senang saja sebagai sesuatu hal yang meghibur dan menyenangkan, tak ada ambisi sama sekali. Bagaimanapun itu sudah lewat. Setelah sesudahnya Papa akhirnya mau sedikit membantu sesi latihan beladiriku, meski hanya memegang samsak dan memberikan sedikit arahan dan saran mengenai cara menendangku. Itu terlalu sedikit waktu kebersamaan. Sampai akhirnya akupun memutuskan keluar dari klub Taekwondo-ku, alasan utamanya karena jadwal latihannya yang berubah bentrok dengan ibadah pemuda ku setiap hari sabtu malam. Apalagi dikatakan tidak boleh ada alasan untuk tidak hadir. Padahal meski aku laki-laki yang paling berpotensi untuk kelasanku saat itu, tapi bagaimanapun aku keluar. Motivasiku untuk beladiri hanya untuk memperkuat diri, mempertahankan diri dari sesuatu hal yang tak terduga, olahraga dan untuk utamanya melatih mental untuk bisa melebihi Papa. Aku tak benar-benar ingin terikat secara serius dalam hal beladiri. Sertifikat sabuk kuningku tak kuambil, tak jadi masalah. Lebih penting menguasai teknik dan lebih kuat daripada, memiliki gelar sabuk yang tinggi. Gelar sabuk tinggi hanya untuk mereka yang berambisi ingin jadi Master/Sabeum, atlit, tentara, polisi, ataupun yang lainnya. Aku memang akan senang bila mendapatkan sabuk hitam sebagai tingkatan tertinggi dalam beladiri seperti halnya Papaku, namun aku tak benar-benar ingin mendapatkannya. Dan juga, Papa, kau bahkan tak mengajariku struktur teknik menulis yang benar, cara mencari berita, cara mengumpulkan ide secara efektif. Aku ingin tau bagaimana kau bisa menulis banyak hal dalam waktu yang singkat. Ingat buku keduamu terbit dan ditulis hanya dalam waktu dua minggu. Aku ingin 'cheat' seperti itu juga kau tau. Aku juga penasaran bagaimana kau melakukan investigasi dan mengumpulkan bukti-bukti secara akurat hingga diibaratkan sebagai orang yang mencari bukti berita seperti orang yang mencari kutu sedetail-detailnya. Bagaimana caranya? Bagaimana tekniknya? Berikan aku sedikit petunjuk untuk teknik tersebut? Itu adalah Ilmu yang teramat penting dalam hidup, akan sangat membantu bila aku menjadi penulis profesional kelak. Masih banyak hal yang ingin aku ketahui darimu. Kau sangat jauh lebih hebat dariku. Aku iri kau bisa hidup dari keluarga berada dan terpandang di daerahmu, hidup lebih nyaman namun tetap dengan rendah hati bersikap untuk tak mengandalkan kemampuan orangtua. Berbisnis dengan modal sendiri sejak muda dan bersikap rendah hati. Aku iri kau bahkan bisa merantau sendiri di daerah lain dan berwirausaha membuka berbagai jenis bisnis sembari bersekolah. Aku iri mendengar ceritamu yang sering mentraktir teman-temanmu. Meski itu terdengar boros. Aku iri mendengar kisah percintaanmu yang terdengar keren, mantan-mantanmu yang terdengar hebat, namun aku bersyukur kau lebih memilih Mama sehingga aku bisa menulis ini. Haha. Aku iri mendengar kau bisa kuliah kedokteran. Namun kau bodoh karena berhenti dari kuliah tersebut hanya untuk hoby balapan motormu yang bodoh itu. Aku iri kau pernah menjadi Dosen Fisika, Kimia dan IPA namun malah memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut. Aku iri kau diberi jabatan menggantikan jabatan Opa semasa pemerintahan Orde Baru, namun kau menolak karena ingin hidup dengan usahamu sendiri. Aku iri banyak hal dari keberuntunganmu yang jauh lebih luar biasa dari keberuntunganmu. Persamaan dan perbedaanya, kau terlihat membuang keberuntungan itu sedangkan aku menerima keberuntunganku namun keberuntungan yang ku dapat malah lebih bukan untuk diriku sendiri dan malah dinikmati yang lain bukan diriku. Keberuntungan macam apa itu? Apakah aku dan dirimu memiliki takdir tak bisa merasakan keberuntungan untuk diri kita sendiri? Aku iri kau lebih memilih berjuang untuk banyak orang, untuk masyarakat, namun usahamu sendiri tak dianggap, hanya sebagian orang yan tau tentang perjuanganmu itu. Lebih banyak yang melupakan dan tidak tau tentang jasa-jasamu. Kenapa kau lebih memilih menjadi pahlawan untuk mereka daripada untuk kami keluargamu? Kebanyakan dari mereka bahkan jelas-jelas mengkhianatimu, mereka hanya ada di masa jayamu dan pergi meninggalkanmu ketika kau terpuruk, padahal kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang kau bantu. Orang yang kau latih, orang yang sudah kau anggap seperti anak-anakmu sendiri, tinggal bersama kami, orang-orang yang seharusnya membalas jasamu, membantu dan membelamu, semuanya berakhir dengan mengkhianatimu dan terang-terangan bahkan ikut memfitnahmu untuk membela orang yang membuatmu jadi seperti saat ini. Mereka padahal sukses karena bantuanmu, namun lihat yang mereka lakukan. Sendainya kau mendengarkan ucapanku saat itu, semua ini pasti takkan terjadi. Sudah kukatakan ditelpon dulu saat kau di Ujung Pandang bahwa aku merasakan perasaan yang tak enak bahwa kau akan dalam keadaan masalah yang besar. Dan memintamu untuk tak melanjutkan perjalanmu. Namun kau tak mendengarkan sampai akhirnya terjebak dalam situasi ini. Aku iri kau lebih memilih mereka. Aku iri kau memutuskan untuk mencoba mengungkap kasus penculikan dan pembunuhan salah satu tokoh penting di sana yang bahkan tak dapat dipecahkan oleh aparat kepolisian sekalipun. Aku iri kau diberikan dana bantuan dari pihak polisi untuk investigasi tersebut namun memilih menolaknya. Aku iri saat kau sudah mendapat titik terang kasusmu, bukannya dihargai untuk jerih payahmu kau malah dibegitukan. Aku iri kau bisa disogok dengan uang milyaran rupiah namun justru menolaknya dengan alasan tak mau menerima uang 'darah'. Aku iri kau lebih memilih ditahan dan tak mau dibebaskan untuk menunjukkan bahwa kau tak bersalah. Aku iri karena kau begitu teguh untuk kebenaran tersebut dan melupakan betapa sulitnya kami berjuang disini. Aku iri karena semasa mudamu kau tak pernah menonton porno, aku tak sengaja melihatnya dan malah menyaksikannya. Aku iri kau tak pernah fap-fap, aku juga ingin hidup suci menjaga kemurnian hati dan pikiranku, terlanjur karena tayangan bodoh yang ditampilkan TV yang tersambung saluran kabel yang disambungkan di rumah orang lain agar bisa menonton TV di tempat Oma dan Opaku dulu. Semua itu karena daya ingin tahu dan otak-atikku di depan TV untuk mencari channel baru dan berakhir seperti itu. Bayangannya sulit dilupakan. Aku benci telah menyaksikannya namun begitu sulit untuk melenyapkan hal tersebut. Aku iri kau begitu berani dan kuat, berwibawa dan bijaksana. Aku iri kau tak malu menunjukan keimananmu yang kuat di depan semua orang terlebih dengan orang dengan agama yang berbeda. Aku iri rekan-rekanmu tetap bisa bergaul erat denganmu dan melihat bahwa kau adalah seorang Kristiani yang berbeda, kau tetap bisa menjaga kehidupan Kristiani yang benar. Aku sendiri sulit seperti itu, aku lebih menekankan pada moral dan spiritual dibandingkan memperkatakan imanku tentang Yesusku. Aku memiliki toleransi yang tinggi terhadap lainnya namun aku khawatir bahwa mereka tak memiliki toleransi yang sama. Aku iri ketika mendengar orang-orang berkata bahwa aku harus kuat dan memiliki mental baja seperti dirimu. Aku iri bahwa kau memiliki gigi yang begitu rapih, kau bahkan baru mengalami sakit gigi pertama kali di usia tua saat ketika aku sudah 1 tahun lulus Sekolah Menengah. Aku sendiri mengalami sakit gigi pertama kali saat SD, waktu tinggal bersama Oma dan Opa. Mungkin karena kebiasaanku untuk menggigit permen dan bukannya mengemutnya, ditambah aku juga doyan jajan snack di warung-warung dulu. Hm. Aku iri kau pernah sekolah bisnis di Australia karena beasiswa untuk usahamu dulu. Aku iri kau mendapatkan kesempatan bekerja di luar negeri namun lebih memilih kembali ke Indonesia untuk kami. Aku tak iri saat mendengar bahwa kau sempat ditaksir wanita yang sama-sama mendapat beasiswa sepertimu di sana, namun kau tetap setia, selain karena mama juga setia, aku pun juga setia, oma-mamiku juga setia, kedua saudaraku juga setia.Jadi itu biasa. Namun aku tetap iri karena kau begitu sempurna, bagaimana mungkin aku bisa melebihimu. Kau adalah belahan jiwa tanpa ku sadari dalam artian yang positif. Masalah besar yang menimpamu ini menyebabkan apa yang tak pernah aku pikirkan sampai terjadi padaku. Membuatku terkena schizophrenia, gangguan mental, karena aku terlalu peduli dengamu. Aktifitasku mulai kacau balau, pikiranku mulai kacau balau, aku mulai pencari pelampiasan akan kurangnya kasih sayang kuterima darimu, waktu yang terlalu sedikit saat bersamamu. Aku membuat diriku dengan kesenangan palsu, tak begitu parah hanya bermain warnet dan bersenang-senang dengan kawan baruku dalam ruang lingkup warnet tersebut. Itu pada masa SMP, dan sifatku mulai berubah karenanya dan pada akhirnya aku mulai memakai kacamata. Studiku memang tak terganggu dan aku masih salah satu yang terpintar di seluruh kelas, namun di rumah itu merupakan awal kehancuran relasiku dengan Mama. Aku mulai berubah jadi keras kepala dan suka marah-marah. Masa pubertas yang menyedihkan dirumah namun juga merupakan masa keemasanku di sekolah. Masalah yang ku hadapi tak bisa menghentikan kemampuan otakku, meski dengan hanya sedikit belajar aku bisa tetap salah satu yang terbaik. Kelas 1 aku kalah pintar dengan seorang lelaki berpostur badan lebih kecil dariku. Awalnya aku yang paling menonjol dari segi pelajaran, namun dia kemudian menunjukkan kehebatannya. Saat mendengar mengapa dia bisa begitu pintar, ternyata karena dia belajar lebih giat dariku dan belajar lebih jauh dari pelajaran yang belum di ajarkan guru. Sayangnya aku jauh lebih unggul dari segi olahraga. Nilai seniku juga bagus, lagipula tak ada praktek musik. Padahal aku ingin mempelajari alat musik. Saat SD sebelumnya aku tak pernah mempelajari gitar sama sekali. Ketika di kelas 2 masih di sekolah yang sama aku akhirnya pisah kelas dengannya dan akhirnya menjadi yang terpintar di kelas. Guru Matematika bahkan menyebutku Master Matematika, dia menyayangkanku yang bersekolah di sekolah ini, harusnya aku masuk sekolah negeri katanya. Karena dia juga mengajar di sekolah negeri yang lain. Dia membuatku merasa ingin pindah sekolah. Ku pikir aku dijuluki master Matematika olehnya dikarenakan aku yang terpintar di kelas tersebut. Dan pasti temanku yang lebih pintar dariku dalam hampir seluruh pelajaran, saingan terberatku kala itu, juga mendapatkan julakan yang sama. Ternyata salah, dia kesulitan memahami pelajaran Matematika yang baru. Aku heran padahal ku pikir pelajarannya sangat mudah, tapi aku juga sedikit senang mendengarnya bahwa aku unggul kali ini. Aku ingat kelas 1 dulu aku ingin diikutkan lomba Fisika (aku lupa istilahnya) oleh guruku, namun tak jadi karena dia mengalami kecelakaan. Aku turut sedih mendengarnya, bukan karena tak bisa lomba, namun lebih karena prihatin terhadap kecelakaan guruku. Ketika dia kembali mengajar, dia jadi berjalan dengan pincang. Untuk kerohaniangue dulu sangat bagus hingga gue tau untuk menjaga batasangue, meski ada satu hal yang gue langgar dan kau sudah tau itu. Gue mengungkapkannya segalanya kepadamu dulu, di depan kalian berdua kedua orangtugue. Gue mengungkapkannya ketika kita berselisih paham sampai gue menangis sejadi-jadinya malam itu, gue mengungkapkan segala perasaangue dan uneg-uneggue, segala kesalahan yang gueperbuat saat itu. Tanpa dipugueli gue menangis terbawa perasaan. Ya, sampai saat ini kau memang teramat jarang memugueligue dibanding kedua saudargue. Bila dihitung dengan jari tak sampai lima. Karena anak yang paling memahamimu adalah gue.
Namun karena hal ini pula dan kerumitan pikiran, batin dan perasaangue. Beberapa bulan ini gue tak mau menerima kabar apapun tentang dirimu. Gue menghindari tentangmu tanpa alasan yang jelas.
Kenyataannya. Kau terlalu hebat untuk gue lampaui. Kehebatan yang bahkan mampu menutupi keegoisanmu. Idealisme dan prinsipmu yang terlalu tinggi dan gueat. Keteguhan dan kekokohan itu, segalanya yang hanya bisa membuatgue mengaguminya. Meski gue benci keadaan yang sampai membuatgue harus mengalami penderitaan yang jauh lebih dalam ini, oleh sebab Idealisme tersebut. Meski kau sebenarnya sama sekali tak bersalah untuk itu. Ini hanyalah resiko yang memang setiap pencari kebenaran akan menjumpainya. Harga untuk mempertahankan kebenaran. Hanya, rasa bangga dan kecewa dalam dirigue ini tetap tak bisa untuk dipisahkan. Hanya memikirkan tentang kepribadianmu saja memang membuatgue lebih mengagumimu, karakter yang ingin gue miliki juga. Memang sebagian besar karaktermu ada dalam dirigue, namun beberapa sifat karakter dasar dari Mama sebagai orang yang pemalu dan cenderung sangat hati-hati, jiwa yang lemah masuk kedalamgue. Mungkin itu salah satu alasan kenapa gue sedikit tak senang dengan Mama. Padahal Mama bisa berubah menjadi orang yang jauh lebih berani dan gueat karena Papa, namun namanya sifat alamiah itu tetap akan ada.
Namun bugue kemarin memang benar-benar mengubahgue, seusai dengan judulnya. 100 Photographs That Changed The World. Meski lebih tepat dibilang kalau bugue ini menyadarkangue, memulihkan ingatan-ingatangue yang sempat tenggelam dalam alam bahwa sadargue. Sifat, kenangan, idealisme yang kembali menguat. Memori-memori yang sempat menghilang tersebut seketika berputar cuguep lama di dalam dirigue. Kepalgue sedikit sakit awalnya untuk seketika bisa mengingat kembali segala kenangan berharggue tersebut. Rasa yang ditimbulkan dalam tubuhgue adalah perasaan hangat, nyaman dan luar biasa. Gue pikir selama ini gue hanya memiliki satu kenangan yang sangat berharga. Dan menggangap bahwa yang terjadi dalam hidupgue ini hanyalah masalah demi masalah. Padahal dulu, gue sendiri yang memintanya. Sigh. Berdoa kepada Tuhan agar dia memberikan ujian yang lebih gueat. Sehingga dengan begitu gue akan lebih gueat dan lebih dewasa, lebih akan mendekatkan diri kepada-Nya. Mau dibaca dan didengar bagaimanapun, ini termasuk doa yang aneh. Disaat orang lain lebih berdoa untuk mengharapkan mujizat dan kebahagiaan, kenapa bisa-bisanya gue terpikir untuk berdoa meminta ujian hidup yang lebih? Bagaimanapun doa itu sudah terucap dan ujian hidupgue semakin bertambah berat dari sebelumnya, thanks to God and for what I am said in the pray was time. --Kembali tentang apa yang gue alami kemarin saat selesai membaca bugue tersebut, banyak hal yang guesadari. Akan terlalu panjang bila gue jelaskan secara detail, namun satu hal

No comments:

Post a Comment

Be careful to comment!

Daily Quotes of Holy Bible

Daily Quotes of Holy Bible